17 Februari, hari ini adalah hari ulang tahunku yang keenam belas, sama seperti hari ulang tahunku sebelumnya. Mamaku adalah orang pertama yang mengucapkan happy birthday tepat pukul 12 malam, dia membangunkanku seraya memelukku dengan hangat dan bebisik “selamat ulang tahun sayang”. Saya tidak tahu apa yang ada dibenak mamaku tapi setiap dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku, dia selalu meneteskan air mata dan semoga saja itu air mata haru. Tak ada perayaan dengan kue tar karena saya memiliki phobia tersendiri terhadap kue tar. Saya bisa ketakutan tidak jelas sampai menangis kalau seseorang mendekatkan kue tar kearahku. Maka dari itu mama tidak pernah memberikan kue tar sebagai bagian dari perayaan ulang tahunku.
Tengah malam telepon genggamku sudah berbunyi, sms dan panggilan tidak terjawab dari kerabat, sahabat, teman, dan kenalanku menumpuk untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Saya berusaha membalas semua sms yang masuk secepatnya sampai-sampai paginya saya bangun kesiangan. Tapi tidak mengapalah, sekali setahun jugakan.
Jam weker bergetar dengan sangat bising membangunkanku pagi ini, sudah kuprediksikan sebelumnya kalau saya akan terlambat, ya walau memang saya tidak pernah datang cepat juga sih(hehe). Saya bergegas bangun dan mengambil air wudhu walaupun saya tahu sudah pukul tujuh dan yang saya lakukan ini entah masih termasuk shalat subuh atau bukan setidaknya saya melaksanakannya masalah pahalanya itu urusan Tuhanlah. Setelah shalat saya langsung mandi, dalam waktu sekejam saya sudah selasai mandi dan langsung berpakaian dan bersiap ke sekolah. Di depan rumah mama sudah siap sambil membunyikan klakson mobil memanggilku, “ Tiara, cepat sayang kamu sudah terlambat dan bisa-bisa mama juga ikut telat ke kantor, ditambah lagi kita akan terjebak macet”. Tanpa sepatah katapun saya langsung berlari ke mobil.
“kamu ini, telat pasti gara-gara smsan semalaman” celoteh mamaku di mobil sambil menyetir. “ya mau gimana lagi ma, kan gak enak kalau orang ngucapin selamat ulang tahun terus gak dibalas”jawabku tersenyum tipis”iya, tapi harus atur waktu kalau kayak gini, masa telat gara-gara smsan gak malu kamu”.”iya ma”. Yaa, dan bukan masalah baru lagi di kota metropoitan Jakarta, macet sudah menjadi jamuan pagi. Jenuh, bosan, dan sumpek terjebak macet menambah kekesalanku pagi ini, sekarang bukankemungkinan terlambat lagi tapi saya benar-benar terlambat kalau sudah terjebak macet. Tak ada kerjaan lain didalam mobil selain memegangi ponselku sambil berharap seseorang akan menelponku pagi ini tuk mengucapkan selamat ulang tahun, telpon yang sudah 10 tahun saya nantikan dari sosok yang hilang dariku meski saya sudah mencoba untuk melupakan semuanya tapi itu bukan hal yang mudah, “berhenti menunggu telponnya darinya, mulailah menerima kenyataan , sampai kapan pun dia tidak akan menelponmu nak, semuanya sudah berubah! kita bisa tanpa dia, toh sudah sepuluh tahun kita bisa bertahan tanpanya”bisik mamaku yang dari tadi memerhatikanku gelisah menatap ponsel. Ya, mama benar sudah saatnya saya berhenti hidup dalam imajinasi masa lalu, tapi sungguh saya tidak tahu apa yang saya rasakan, saya sangat ingin membencinya dan menghapusnya dari deretan nama yang ada dalam ingatanku, tapi sulit dan sangat tidak mudah memahami perasaanku sendiri, saya tidak bisa membencinya dan saya tidak bisa menyukainya seperti orang normal, saya tahu benar perasaan mamaku tapi saya benar-benar tidak bisa lepas darinya. Setiap saya mengingatnya dan merindukannya saya merasa bersalah pada mamaku. Rasa bersalah yang membuatku serbasalah dan tak tahu harus berbuat apa.
“kita sudah sampai di depan sekolahmu dan hapus air matamu, nanti matamu sembab gara-gara nangis, nanti anak mama gak cantik, apa nanti kata teman-temanmu kalau liat kamu nangis kayak gini” Kata mama membuyarkan lamunanku. Saya tidak sadar ternyata dari tadi saya menangis di mobil, “maaf ma, sungguh saya tidak bermaksud menyakiti mama lagi” bisikku dalam hati. Kuraih tissue yang di ulurkan mamaku lalu bergegas turun, “nanti mama jemput”, saya hanya mengangguk mendengar teriakan mamaku sambil berlari.
***
“tumben kamu datang cepat, Ra!” sapa Shela sahabatku dari belakang sambil merangkul pundakku,
“datang cepat... maksudnya?? Bukannya saya sudah telat”
“aduh, Tiaraaa sayang(sambil menarik kedua pipiku), hari ini tuh kita masuk siang kan kelas dipake untuk sosialisasi narkoba yang dilaksanakan osis”
“sosialisasi? Sejak kapan? Kok saya gak tahu ya?”
“lalot lagi nih anak, hello sejak kapan kalau ada sosialisasi harus lapor ke kamu dulu, makanya update jangan cuma ngurusin tumpukan animasimu itu”
“hehehe,.ya juga sih tapi seandainya saya tahu hari ini kita masuk siang, saya mending tidur lagi tadi di rumah, mana udah buru-buru juga”
“udalah kamu juga sudah di sekolahkan, mmmm,.tapi ada untungnya juga tuh kamu bisa datang pagi(ahahhaa) kan jarang miss telat ini datang pagi.., ya udah ke kantin yuk, kamu kan janji traktir hari ini pake royalti animasi yang kamu dapat dari lomba kemarin”
“yuk, tapi jangan pesan yang mahal-mahal loh”
“ssiiippp bos”
Sampai di kantin, saya menemani shela makan. Saya biasa sarapan di rumah jadi jarang sarapan di kantin sekolah. Sambil nunggu si lelet Shela makan, saya membuka tas dan melihat ponselku yang sepi tanpa sms satupun dan untuk mengurangi rasa jenuh saya mengambil buku gambar dan mulai melanjutkan gambar animasi saya yang sempat tertunda.
“kak, dipanggil bu Yana ke ruang eskul sekarang” kata Rika adek kelasku sekaligus satu eskul di animation club.
“okey dek, thanks infonya”
“Shel,.saya duluan ya ada kepentingan eskul, makan aja nanti saya yang bayar,”
“iyyaaa.., oiya nanti ketemu di perpus aja, biasa ngumpul sambil kerja tugas fisika”
“okey, duluan aja nanti saya ngusul” kataku sambil buru-buru ke kelas eskul.
saya berlari menuju kelas eskul dilantai atas, saya baru ingat bahwa hari ini memang ada pertemuan untuk evaluasi anggota baru. Hari ini benar-benar kacau, saya benar-benar tidak ingat kalau hari ini ada janji.
“maaf semuanya saya telat,”
“ya masuk Tiara, silahkan duduk”
“makasih bu,” kataku langsung duduk dipojok.
“baik anak-anak, sekarang ada satu anggota baru yang bergabung dieskul kita kali ini, ayo nak perkenalkan namamu”
“hay semua, kenalkan saya Meisya Kartika Prasetyo, saya kelas XC dan alasan saya bergabung dieskul ini karena saya suka dengan animasi dan ingin mengembangkan bakat saya dalam bidang animasi”
Anak itu, tepatnya nama belakang “Prasetyo” yang digunakan anak itu mengingatkanku kepada seseorang. Tapi gaklah kan di dunia ini banyak yang menggunakan nama itu, tapi anehnya lagi saya merasa sangat dekat dan akrab dengan anak ini walaupun tidak pernah bertemu atau kenal sebelumnya, tapi tetap saja saya merasa anak ini tidak asing bagiku.
“Tiara, ibu menugaskan kamu untuk membimbing Meisya”
“iya bu,”
“ya sudah pertemuaan hari ini cukup, besok kita berkumpul lagi untuk membiacarakan strukrural pengurus”
Berlahan saya keluar dari kelas dan langsung menuju ke perpustakaan, tapi bayang-bayang nama anak itu tidak bisa hilang dari pikiranku,
“kak tunggu,.”
‘Meisya,.. ada apa?” jawabku sambil berbalik kearahnya
“nih kak tadi gambarnya jatuh”katanya sambil menyodorkan gambar yang tadi sempat kubuat di kantin,
“oohh,.makasih” kataku mengambil gambar itu darinya dan melanjutkan langkahku ke perpus
“kak,.sepertinyaaa,...”
“aduh maaf ya dek, saya buru-buru” kataku lalu berlalu menuju perpus, karena sepertinya saya sudah terlambat lagi,.it’s really late day for me.
Seperti kegiatan biasanya sampai di perpus saya, Shela, dan Rio mengerjakan tugas fisika. Nyerah deh saya kalau soal fisika, tapi untungnya ada Shela, walaupun cerewetnya minta ampun tapi soal fisika dia luar biasa ditambah lagi Rio yang jago perhitungan , mmmm jadi saya terima beres aja paling kebagian nulisnya doang. Setelah dari perpus kami bertiga masuk kelas dan langsung belajar fisika, saya benar-benar error deh plus duduknya bareng Diva lagi, yang super duper pelit banget ngajarin orang, jadi tiap pulang sekolah saya dapat privat fisika dari Shela dan Rio.
***
Sepulang sekolah, saya harus menunggu jemputan dan sepertinya mama akan telat jemputnya, dan saya biasa menunggu di taman baca dekat parkiran sambil mengeluarkan buku gambar, menggambar adalah hiburan tersendiri buat saya dan mampu membunuh kejenuhanku setiap kali menunggu jemputan. Menggambar juga membuat saya nyaman dan menemukan jati diri saya, mungkin ini yang orang sebut hobi bahkan lebih dari hobi.
“Ra,. Saya duluan ya so jemputan saya udah datang” teriak Shela dari pojok parkiran
“iya, see you tomorrow sister”jawabku sambil melanjutkan menggambar.
Biasanya saya nunggu jemputan bareng Rio, tapi sepertinya sikutu buku itu lagi bimbel matematika. Saya suka matematika tapi tidak semahir Rio sih, jadi saya lebih milih eskul animasi lagian di sekolah gak bisa ambil dua eskul sekaligus.
“kak sini,.”teriak seseorang dari belakang, saya berbalik dan saya melihat Meisya anggota baru dieskluku melambaikan tangan bermaksud memanggilku, karena penasaran buat apa anak itu memanggilku jadi saya bergegas mengambil tas dan berjalan kearahnya sambil berpikir dalam hati(sok dekat banget sih ini anak),
“kak sini , saya mau kenalin kakak sama ayah saya,.” Katanya sambil menggedor pintu mobil ayahnya, menunggu ayahnya turun saya mengotak-atik ponsel untuk membaca sms dari mama,
“ayah kenalkan ini kak Tiara kakak kelas saya yang juga satu eskul dengan saya, dia jago gambar loh yah,” ayahnya kemudian keluar dari mobil dan mengulurkan tangannya kearahku,
“saya Prasetyo Wijaya, ayah Meisya”. Suara dan nama itu seketika membuyarkan konsentrasiku yang sibuk membaca sms, saya mengangkat wajah dan menatap ayah Meisya. Astaga tubuhku kaku melihat wajah dan mendengar suara itu, suara yang sangat akrab ditelingaku. Wajah itu, wajah yang kurindukan selama sepuluh tahun, suara itu suara yang kunantikan selama sepuluh tahun pula, kini hadir dihadapanku dengan sangat jelas dan dekat. Ya, dia ayahku , ayah yang terakhir kali kulihat sepuluh tahun lalu setelah ia bercerai dengan mamaku. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, memeluknya dengan erat atau hanya diam tanpa respon, saya rasanya ingin melepas kangen yang ku pendam selama sepuluh tahun, rindu seorang anak terhadap ayahnya, tapi saya tidak bisa!.
“hai nak, kamu kenapa?kurang enak badan?” sapanya lagi. Bahkan dia sama sekali tidak mengenalku, sambil menahan tangis saya menyambut tangannya ,
“oohh.saya Tiiiaarraa,” jawabku terbatah. Tanpa berpikir dua kali lagi saya langsung berlari entah menuju kemana yang pasti pergi dari hadapan orang tersebut, terlalu menyakitkan buat saya mengungkit masa lalu ini lagi.
Entah ini jawaban dari doaku yang mengharapkan kehadirannya dihari ulang tahunku, tapi sepertinya saya tidak siap untuk itu bertemunya kembali pada perayaan ulang tahunku. Saya berlari makin kencang, karena hanya dengan berlari saya bisa menghela nafas dan meluapkan semua perasaanku. Tanpa sadar saya tiba di kelas, saya langsung duduk di bangkuku dan meluapkan seluruh perasaanku, tak ada yang lain yang saya lakukan selain menangis. Kejadian tadi membawaku kembali kememori kelam yang ingin saya lupakan dan kubur dalam-dalam.
Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya hari ulang tahunku yang keenam, saya merayakan ulang tahun di rumah dengan meriah seperti halnya anak-anak pada umumnya. Namun pada malam harinya, mama dan Ayahku terlibat pertengkaran keras, tapi saya masih terlalu kecil untuk memahami alasan pertengkaran itu dan emosi orang dewasa, saat mereka bertengkar saya berlari kearah ayahku yang saat itu baru pulang dari luar negeri sambil berkata “yah, kado yang Tiara pesan adakan, mana kadonya yah, adakan, Tiara mau liat yah,.yahh”kataku sambil merengek ke ayahku. Dan secara tiba-tiba ayah melempat kue tar berserta piring yang ada disampingnya kewajahku, kue tar dan pecahan piring itu mengenai mataku, serpihan piring itu rasanya mencabit-cabit mataku sampai semuanya gelap dan membuat saya tidak sadarkan diri. Hal itu membuat saya harus menjalani operasi mata di Singapura untuk membersihkan efek kue tar dan mengangkat beling yang menancap dimataku dan tidak hanya itu saya sempat mengalami kebutaan selama setahun sampai akhirnya saya mendapatkan donor kornea dan melakukan operasi yang kedua kalinya di Singapura. Sampai detik ini saya tidak mengerti alasan pertengkaran mereka, yang sempat terekam oleh indra pendengarku hanya kata “khilaf” yang di ucapkan oleh ayahku. Entah apa makna dari kata “khilaf” yang diucapkannya yang sampai hari ini pun saya belum mengerti. Yang ku tahu karena kata itu mereka bertengkar, karena kata itu mamaku membenci ayahku, karena kata itu mereka berpisah, karena kata itu saya merasakan sakitnya operasi kornea mata, karena kata itu mamaku menangis, karena kata itu kami berdua pindah dari Bandung ke Jakarta, dan karena kata itu saya terjebak dalam ketakutan terhadap masa lalu dan kue tar. Saya benar-benar tidak mengerti dan tidak ingin mengerti, bahkan saya tidak ingin dibuat mengerti sedikitpun. Sampai 10 tahun berlalu, sampai semuanya dianggap pulih dan membaik, tapi ketakutanku tetap sama sperti 10 tahun yang lalu. Saya ingin membenci ayahku yang hanya dapat membuat mama menangis, saya ingin dendam padanya yang telah merebut kornea mataku serta masa kanak-kanakku, saya ingin membunuhnya saat melihat mama stres dengan kondisiku saat mengalami kebutaan, saya ingin mencacinya tanpa ampun. Tapi, saya tidak bisa, sungguh tidak bisa. Entah kenapa hatiku selalu memaafkan semua perbuatannya, tapi setiap kali saya menyaksikan mama bekerja keras untuk penghidupan kami berdua, saya merasa benci padanya tapi rasa benci itu tidak mampu mengalahkan rasa sayangku padanya, apapun itu toh dia tetap ayahku, walau dia seorang penjahat sekalipun itu tidak akan merubah bahwa dia ayahku. Namun tetap saja sosoknya terlalu menyakitkan bagi mamaku, saya bingung dan tidak tahu, saya ingin sekali membencinya tapi saya tidak bisa. Saya lebih rela tidak melihat seumur hidup daripada harus membencinya, tapi tiap melihatnya wajah mamaku selalu terbayang sehingga saya juga tidak dapat menyukainya.
“Ra, Tiara,..kamu baik-baik aja?” kudengar suara Rio dan Shela menggoyang-goyangkan tubuhku, saya yang dari tadi duduk dan menundukkan kepala kemudian berlahan membangkitkan tubuhku,
“kamu kenapa Ra?ada apa? Cerita sama saya, tadi mama mu nelpon katanya dia gak bisa jemput kamu dan kamu belum pulang jadi saya dan Rio menyusulmu kesini, karena ponselmu juga tidak aktif”
“iya Ra Shela benar, tadi saya ketemu Meisya yang anak kelas X di parkiran dan katanya tadi kamu lari gak jelas, emang kamu kenapa Ra?” tandas Rio.
“saya gak apa-apa kok, sekarang saya mau pulang”. Untuk masalah yang satu ini saya memang tidak pernah cerita kesiapapun bahkan kesahabatku Shela dan Rio sekalipun.
“ya sudah saya bawa mobil kok, yuk saya antar” kata Rio sambil memapahku berdiri.
“saya bisa jalan sendiri kok”
Mereka berdua mengantarku pulang dan dimobil saya hanya diam, saya masih trauma bahkan saya tidak tahu apa yang saya pikirkan. Mereka berdua juga diam, mereka adalah sahabat terbaikku, mereka mngerti kondisiku dan mereka tahu bahwa saya tidak ingin berbagi cerita ini kemereka sehingga mereka tidak banyak bertanya, mereka berdua selalu ada disaat saya butuh mereka walaupun saya tidak bisa terbuka soal masalah ini tapi mereka berdua tidak pernah meninggalkanku.
Tidak terasa saya sudah tiba di rumah, “sepertinya rumahmu masih sepi Ra, mungkin mamamu belum pulang, mau kami temani dulu sampai mamamu pulang?” Tanya Shela
“gak usah, abis ini saya mau tidur, capek! Kalian pulang saja, okey see you !”
“okey, tapi kalau kamu butuh sesuatu telpon kami saja” tegas Rio
Saya hanya mengangguk mengiyakan perkataan Rio dan Shela, dan menyusun langkah masuk ke rumah. Ya, mamaku memang belum pulang, saya hanya masuk ke kamar dan langsung berbaring dan berharap dapat tertidur untuk sejenak melupakan masalah ini.
***
“Ra,.ayo sarapan!”panggil mama, saya langsung turun kemeja makan.
“kamu gak enak badan ya??kok pucat gitu?”
“kemarin saya bertemu dia ma,..”
“dia? Dia sapa?”
“Prasetyo Wijaya,..”
“dimana kamu bertemu orang itu, bukankah mama sudah bilang kalau kamu tidak usah mencari atau bertemu dengannya, dia sudah punya kehidupannya sendiri begitupun kita, apa kamu mengerti perasaan mama?”
“kalau saya mengerti perasaan mama, apa mama juga mengerti perasaan saya? Apa mama tahu saya seperti orang bodoh saat orang-orang bertanya tentang ayah saya, saya tidak dapat menjawab sepatah katapun, karena apa ma?? Karena saya tidak tahu. Saya mengerti perasaan mama dan bahkan sangat mengerti, tapi ini terlalu berat buat saya ma, phobia terhadap kue tar yang tidak bisa saya jelaskan atau bahkan nama saya TIARA PRSIYAH P. Yang menyandang nama belakang “P” namun saya tidak dapat menjelaskan makna huruf P dibelakang namaku saat teman-temanku bertanya tentang itu, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan apakah “P” berarti Pratama nama kakek atau Prasetyo nama ayahku,..saya tidak tahu ma! Kenapa sangat sulit buat saya memakai nama belakang ayahku sendiri karena pertengakaran kalian berdua, apakah mama juga tahu, perasaan yang saya rasakan saat seorang anak dengan bangga dan leluasanya menyandang nama Prasetyo dibelakang namanya, bahkan apa mama juga mau tahu sakit hati yang saya rasakan saat anak itu memperkenalkan dengan bangga ayahnya yang bernama Prasetyo Wijaya dihadapanku, sakit rasanya ma, ini lebih sakit daripada sayatan beling dimataku. Saat ayah saya sendiri tidak mengenaliku,..coba mama pikir, saya tidak tahu kenakalan apa yang telah saya lakukan sehingga saya menerima ini semua, sudah 10 tahun saya menahan beban ini ma,.tampil seolah tanpa persoalan sedikitpun, inilah batas kemampuanku ma. Saya sudah mencoba menerima semua kenyataan ini dan mencoba tegas ma, tapi maafkan saya ma saya tidak bisa, saya tidak bermaksud lancang ataupun tidak sopan tapi ini yang saya rasakan selama 10 tahun. Saya tahu kalian bercerai dan saya pun tidak berharap kalian bersatu lagi, saya hanya berusaha hidup normal seperti yang lain ma gak lebih. Asal mama tahu, anak ayah yang sekarang bernama Meisya Kartika Prasetyo. Bukankah saya memiliki hak yang sama dengannya menyandang nama itu, saya terkadang iri ma atau bahkan benar-benar iri padanya. Saya tidak tahu harus membela siapa, saya juga tidak membela ayah, maa.. saya juga kecewa dengan kondisi ini, ayah saya sendiri bahkan lupa dengan ulang tahun saya, tapi dia tidak pernah lupa menjemput Meisya setiap hari. Tolong maa, saya tidak tahu apa yang saya rasakan, perasaan ini bisa membuat saya gila ma. Begitu nakalkah saya untuk menerima hal ini” kataku terisak sambil menghapus air mataku yang tak berhenti mengalir.
Mama terdiam kutatap wajahnya meneteskan air mata, demi Tuhan saya tidak bermaksud menyakitinya pagi ini tapi saya juga tidak dapat menahan perasaan ini lagi. Dan tiba-tiba Mama mendekat dan memelukku,
“maaf,..maaf,.maaf, maafkan kami berdua nak, kamu jadi korban keegoisan kami, ya,.mama memahami perasaanmu, ini semua salah mama, maafkan mama yang membuatmu menahan beban sebesar ini... tolong maafkan mama, kalau kamu mau silahkan marahi mama, karena mama pantas menerima kemarahanmu,.ayoo nak marahi mama!!”
“tidak ma, tidak akan. Sampai kapanpun saya tidak akan memarahi mama, saya tahu betapa beratnya hidup yang mama jalani sebagai single parent untuk menghidupi saya, jadi bagaimana bisa saya memarahi mama. Saya tidak ingin menyalahkan siapapun, mungkin memang sudah seharusnya seperti ini. Namun saya hanya mencoba mengungkapakan perasaan sesak yang saya tahan ma”
Tiba-tiba ponselku berbunyi dan ternyata itu sms dari Shela :”sy ada d dpn,qt brngkt brng aja, skrg lho kluar,..gue tunggu so gue lg bw mobil nih”. Membaca sms itu saya langsung bergegas keluar, “Maa.. saya duluan, Shela ada didepan!”, “iya sayang, hati-hati”.
“mata lho kok sembab Ra?” tanya Shela padaku saat masuk mobil
“iyaa.. tadi abis nangis, biasa ada problem dikit ma mama” jawabku lesu
“ya udah lho punya kacamata minus kan? Pake aja supaya gak terlalu nampak”. Tanpa berpikir dua kali saya langsung membuka tas untuk mengambil kacamata, “astaga, undangannya”
“undangan apa?” tanya Shela. “undangan pameran hari ini, saya lupa ngasih kemama tadi, tapi ya udahlah mama paling udah berangkat ke kantor nanti saya sms aja”
***
Sampai di sekolah saya langsung menuju ke ruang pameran bersama Shela dan Rio. Sesampai di ruang pameran saya langsung menuju lokasi gambar saya untuk melihat hasil penilaian juri,”Ra, selamat ya sketsamu berhasil menang dan akan mewakili Indonesia kefestival asean competition” kata bu Yana menyapaku. Saya hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan bu Yana,karena saya lebih befokus pada percakapan Meisya dan ayahnya sekaligus ayahku juga,
“sudahlah sayang, gambar kamu bagus kok, ya mungkin bukan rezekimu aja kali ini, ayah tetap salut kok sama kamu. Ayah bangga punya anak kayak kamu dan ayah yakin someday you can be a winner”
“makasih yah,... saya juga bangga punya ayah kayak ayah”
Saya merasa iri mendengar percakapann mereka, sejak kecil saya menekuni dunia menggambar karena dorongan ayah dan saya ingin membuat ayah bangga, tapi tak sedikitpun saya mendapatkan pujian darinya. Jenuh mendengar perbincangan mereka yang hanya membuat saya iri, saya langsung keluar dan bermaksud pulang. “Ra,..Tiara”panggil mamaku dari belakang, “mama?ngapain disini?”,”aduh kamu ini mama mau ngucapin selamatlah kekamu dan sebagai hadiahnya mama mau ngajak kamu ke Bandung ke rumah kita dulu”. Saya kaget, kenapa mama bisa mengajak saya ke Bandung setelah 10 tahun kami tak pernah kesana lagi, tanpa penolakan saya langsung masuk ke mobil.
Sampai di Bandung kami disambut sama pak Tono yang juga merupakan satpam yang menempati rumah ini selama saya dan mama pindah ke Jakarta. Tanpa berpikir panjang saya langsung menuju ke kamar saya, “dan astaga! Saya kaget luar biasa, “pakkk Toonnooo kemari pak!”teriakku histeris,”ada apa neng?”, “benda-benda ini dari mana?’, “oohhh,.itu kiriman buat neng selama ini setiap tanggal 17 februari, bapak gak tahu atuh neng mau nyimpennya dimana, sok atuh saya simpan di kamarnya eneng”, saya berlahan mendekati barang-barang itu. Kamar saya penuh dengan pot-pot bunga tulip, kue tar yang sudah basi dan masih baru, bahkan komik detektif konan kesukaanku. Benda-benda ini adalah barang kesukaanku enam tahun silam dan sekarang menjadi barang phobia buat saya, menahan rasa takut saya mendekati barang-barang itu dan mencari nama pengirimnya dan ternyata tercantum dalam alamat pengirimnya atas nama Prasetyo Wijaya, saya tersentak kaget melihat nama itu. Dengan kumpulan kartu ucapan selamat ulang tahun kubaca pelan dan berlahan :” selamat ulang tahun sayang, kamu baik-baik aja kan, ayah masih terlalu pengecut tuk datang kehadapanmu setelah apa yang ayah lakukan. Bersama benda-benda ini ayah kirimkan salam rindu buat anak ayah, maafkan ayah nak... sampai tiba waktunya nanti ayah sangat ingin bertemu denganmu dan berlutut memohon maaf atas kesalahan ayah, semoga kau bahagia...salam hangat ayah yang merindukanmu”. Membaca kartu ucapan itu membuat air mataku mengalir tak terbendung, “aayahhh,..aayahhh,..ayah..”hanya itu kata yang terucap dari bibirku diantara tumpukan benda-benda yang dikirm ayahku tiap tahunnya setelah berpisah dengan mamaku.
“astaga Tiara,..kamu kenapa sayang?” teriak mamaku saat melihatku didalam kamar,
“maa... ayah ma, semua benda-benda ini dari ayah.. ayah tidak lupa hari ulang tahunku. Ayah ma..ayah!”kataku memeluk mama. Kenapa tidak dari dulu saya mengetahui ini semua. Nada dering ponselku dengan seketika mengagetkanku, kuraih ponselku yang kuletakan diatas meja dan ternyata itu telpon dari Shela,”hallo Ra, kamu dimana sekarang?” tanya Shela dengan nada terburu-buru,
“saya lagi di Bandung, emang napa? Ada masalah?” tanyaku lesu dan sedikit penasaran
“kamu kenal Meisya kan? Yang satu eskul kamu itu, dia barusan mengalami kecelakaan beruntun bersama ayah dan ibunya dan kondisinya kristis, sekarang saya ma Rio ada di RS tadi kami yang ngantar mereka kemari”
Saya lemas mendengar perkataan Shela, saya berbalik ke mamaku “maa.. ayah dan keluarganya mengalami kecelakaan dan sekarang sedang kritis di RS”. Tanpa berpikir lagi, mama langsung menarikku dan berlari ke mobil untuk kembali ke Jakarta. Saya melihat jelas wajah kuatir mamaku sekaligus wajah ketakutan dan kesedihan yang begitu jelas. Dan tanpa terasa perjalanan Bandung-Jakarta kami tempuh dalam waktu satu jam dua pluh menit padahal biasanya sampai 2 jam lebih. Saya dan mama langsung menuju rumah sakit dan menemui Shela, “Shel..dimana mereka”, “Meisya dan ibunya ada diruang operasi, tapi ayahnya tidak mau dioperasi dan masih di bujuk oleh dokter untuk operasi”. Saya dan mama langsung berlari menuju kamar pasien, “Aayaahhh..ini saya Tiara anak ayah”teriakku lari memmeluknya,”Tiara?? Anak ayah?”ucapnya sambil menyentuh wajahku dengan gemetar, “iya yah ni Tiara, ayah harus mau dioperasi ya, Tiara sayang sama ayah dan sekarang ayah harus turut apa kata Tiara,ya ayah?”, “tiiddakk,..ayah mau ucapkan selamat ulang tahunn padamu nak, ayah tidak bisa lagi menemanimu, sekarang buka tas ayah disitu ada sesuatu untukmu”. Kubuka tas itu dan kudekatkan kewajah ayah,”itu kue tar dan lilin nyalakanlah nak ayah ingin merayakannya tuk terakhir kalinya dan menebus janji-janji ayah kekamu”. Saya langsung menuruti permintaannya dan ini untuk pertama kalinya saya memberanikan diri menyentuh kue tar,”tiup lilinnya sayang,.”. saya mendengar ayah menyanyikan lagu selamat ulang tahun walaupun tidak begitu jelas.tangannya yang makin gemetaran menyentuh wajahku, “sekali lagi maafkan ayahmu ini yang tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu, menemanimu tumbuh dewasa dan menjagamu, maafkan ayah nak...maaf..maaf..maafkan ayah nak, ayah sangat menyayangimu nak!”, “iya yah, saya sudah memaafkan ayah dan saya juga sangat menyayangi ayah, makasih juga buat kado-kadonya yah”, “tumbuhlah jadi seorang artsitek hebat, ayah bangga punya anak sepertimu, kau kebanggaan ayah nak dan sampaikan juga maaf ayah pada mamamu yang telah membuat hidup kalian berdua hancur dan satu lagi pesan ayah yaitu kamu punya adik bernama Meisya, tolong jaga dan bimbing dia demi ayah”katanya menghela nafas panjang.”ayah,.ayah? aaayyyaaaahhhh?ayah kenapa?ayo bicara yah?”teriakku histeris.”aaaaaaaaaayyyyyaaaaaaahhhh!”. ibuku yang juga ikut menangis mencoba menenangkanku, ya batas kesanggupan penopang takdir telah tiba, ubun-ubunnya telah melepas rohnya pergi dan melayang “innalillahi wainnailaihi rajiun,.bisik ibuku ketelingaku. Bisikan itu membuat tangisku memuncak,” kenapa secepat ini Tuhan, tidakkah kau paham dan memberiku waktu sebentar lagi”gumamku. Mama tak hentinya mencoba menenangkanku “istigfar nak, ini sudah jalan ayahmu..tak ada manusia yang mampu menentang kehendak sang pencipta, yakinlah jalan Tuhan itu benar dan membenarkan,istigfar nak!”
Seketika kejadian ini menyerangku hingga tak berdaya, pikiranku melayang dan tidak terbendung, saya bekabung begitu dalam dan teramat dalam. Diakhir hidupnya setidaknya ayah sudah menjelaskan semua kesalahpahaman ini padaku dan mama. Inilah takdir kehendak Tuhan, betapa saya tak dapat melawannya sedikitpun. Disisi lain kondisi Meisya dan ibunya masih tetap kritis. Sebulan setelah speninggalan ayah mereka masih koma, saya dan mama bergilir menjagai mereka di rumah sakit. Selama setahun saya dan mama menjaga mereka yang masih koma di rumah sakit. Namun, diluar dugaan mama mendapatkan pindah tugas ke singapura dan kami berdua harus tinggal di sana, begitupun saya yang medapatkan beasiswa di Nanyang University difakultas desain animation. Berat buat kami harus meninggalkan Meisya dan ibunya tapi kami tidak dapat berbuat apa-apa, kami harus pergi. Meisya dan ibunya dirawat oleh saudara ibunya selama kami pergi. Tapi kami berdua tetap berusaha mengikuti perkembangan kondisinya, biar bagaimanapun Meisya adalah adik saya dan dia tanggungjawab saya, saya masih punya satu untang padanya yaitu mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan kami karena dia berhak tahu tentang itu.
***
Selama 6 bulan pertama di singapura kami masih mendapatkan info tentang Meisya dan ibunya yang belum sadarkan diri. Tapi, akhir-akhir ini komunikasi kami terputus dan sudah dua tahun setengah saya dan mama saya tidak mendapatkan info tentang Meisya dan ibunya, entah bagaimana kondisi mereka saat ini, kami telah mengupayakan segala cara untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan mereka namun tetap saja hasilnya nihil.Tidak terasa kami sudah 3 tahun lebih tinggal di Singapura, dan kuliah saya juga sudah selesai tinggal nunggu wisuda saja. Rasanya kangen juga dengan tanah air dan kondisi sahabatku Shela dan Rio di Indonesia.
Dan pada akhirnya saya dan mama saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia sekaligus menghadiri pernikahan Shela dan Rio. Tepat pada perayaan ulang tahunku 17 februari, kami tiba di Indonesia tepatnya di rumah kami di Bandung.setiba di rumah, seperti biasa kami disambut keluarga pak Yono yang menempati rumah tersebut, lega rasanya sampai di rumah melepas kangen dengan tulip-tulipku dan sekarang saya tidak phobia lagi dengan kue tar. Tibanya disana saya langsung menuju ke kamar tuk mengulas memori masa lalu. Sekarang saya sudah cukup dewasa, tidak lagi menangis dengan kenangan pahit itu, saya setidaknya semua masalah telah mendewasakanku.
“wehh non,.baru sampai sudah dapat kiriman tuh?”tegur pak Yono menjulurkan kiriman pake itu kearahku, saya menerka mungkin ini dari Shela dan Rio, kubuka paket itu ternyata berisikan bibit bunga tulip, kue tar, dan komik detektif konan. Saya melihat nama pengirimnya yang sontak membuatku kaget bertuliskan : FROM: PRASETYO WIJAYA. Saya benar-benar kaget menerima paket itu, ini merupakan hal yang mustahil. Saya berlari ke mobil dan menuju ke kantor pos, setibanya disana saya mencari petugas adminstrasinya tuk menanyakan kebenaran paket ini,
“pak,.saya mau nanya paket yang saya kirim apa sudah sampai ke alamat Tiara Prisyah P?” kudengar orang itu menyebut namaku dan saya langsung berbalik. Dan ternyata dugaanku benar itu adalah Meisya adikku, saya langsung memeluknya, “Meisya adikku ini saya Tiara Prisyah P yang kamu cari?”
“tolong lepaskan pelukan anda!(jawabnya sinis), apa maksud anda? Saya mengirim paket ini memang untuk TIARA PRISYAH P, tapi saya tidak mngenalnya saya hanya menjalankan perintah ayah saya yang selalu menyuruhku mengirim paket kealamat itu bahkan sampai dia meninggal dia tetap berpesan hal yang sama”.lanjutnya. Saya langsung mengajaknya duduk dan menjelaskan semuanya, matanya berbinar dan kembali memelukku. Ayah benar-benar hebat, dia secara tidak langsung memperkenalkan kami. Ku jelaskan padanya tentang semua kejadian beberapa tahun lalu.
Singkat cerita keluargaku kembali berkumpul dengan Meisya serta ibunya di Bandung dan juga menghadiri pernikahan kedua sahabat terbaikku Shela dan Rio yang menjadi sepasang suami istri.begitu sempurna rencana Tuhan ini, ternyata Tuhan menyampaikan maksudnya dengan cara yang luar biasa, dan untuk pertama kalinya saya berdiri di mimbar sebagai mahasiswa lulusan terbaik dan satu kalimat pembuka yang saya ucapakan “ hadirin, perkenalkan nama saya TIARA PRISYAH PRASETYO” untuk pertama kalinya saya berdiri tegak dengan nama belakang ayahku didepan dunia.
***

