siapa penemu komputer

Kamis, 24 November 2011

Bersama Jalan TUHAN



                17 Februari, hari ini adalah hari ulang tahunku yang keenam belas, sama seperti hari ulang tahunku sebelumnya. Mamaku adalah orang pertama yang mengucapkan happy birthday tepat pukul 12 malam, dia membangunkanku seraya memelukku dengan hangat dan bebisik “selamat ulang tahun sayang”. Saya tidak tahu apa yang ada dibenak mamaku tapi setiap dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku, dia selalu meneteskan air mata dan semoga saja itu air mata haru. Tak ada perayaan dengan kue tar karena saya memiliki phobia tersendiri terhadap kue tar. Saya bisa ketakutan tidak jelas sampai menangis kalau seseorang mendekatkan kue tar kearahku. Maka dari itu mama tidak pernah memberikan kue tar sebagai bagian dari perayaan ulang tahunku.
                Tengah malam telepon genggamku sudah berbunyi, sms  dan panggilan tidak terjawab dari kerabat, sahabat, teman, dan kenalanku menumpuk untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Saya berusaha membalas semua sms yang masuk secepatnya sampai-sampai paginya saya bangun kesiangan. Tapi tidak mengapalah, sekali setahun jugakan.
                Jam weker bergetar dengan sangat bising membangunkanku pagi ini, sudah kuprediksikan sebelumnya kalau saya akan terlambat, ya walau memang saya tidak pernah datang cepat juga sih(hehe). Saya bergegas bangun dan mengambil air wudhu walaupun saya tahu sudah pukul tujuh dan yang saya lakukan ini entah masih termasuk shalat subuh atau bukan setidaknya saya melaksanakannya masalah pahalanya itu urusan Tuhanlah. Setelah shalat saya langsung mandi, dalam waktu sekejam saya sudah selasai mandi dan langsung berpakaian dan bersiap ke sekolah. Di depan rumah mama sudah siap sambil membunyikan klakson mobil memanggilku, “ Tiara, cepat sayang  kamu sudah terlambat dan bisa-bisa mama juga ikut telat ke kantor, ditambah lagi kita akan terjebak macet”. Tanpa sepatah katapun saya langsung berlari ke mobil.
                “kamu ini, telat pasti gara-gara smsan semalaman” celoteh mamaku di mobil sambil menyetir. “ya mau gimana lagi ma, kan gak enak kalau orang ngucapin selamat ulang tahun terus gak dibalas”jawabku tersenyum tipis”iya, tapi harus atur waktu kalau kayak gini, masa telat gara-gara smsan gak malu kamu”.”iya ma”. Yaa, dan bukan masalah baru lagi di kota metropoitan Jakarta, macet sudah menjadi jamuan pagi. Jenuh, bosan, dan sumpek terjebak macet menambah kekesalanku pagi ini, sekarang bukankemungkinan  terlambat lagi tapi saya benar-benar terlambat kalau sudah terjebak macet. Tak ada kerjaan lain didalam mobil selain memegangi ponselku sambil berharap seseorang akan menelponku pagi ini tuk mengucapkan selamat ulang tahun, telpon yang sudah 10 tahun saya nantikan dari sosok yang hilang dariku meski saya sudah mencoba untuk melupakan semuanya tapi itu bukan hal yang mudah, “berhenti menunggu telponnya darinya, mulailah menerima kenyataan , sampai kapan pun dia tidak akan menelponmu nak, semuanya sudah berubah! kita bisa tanpa dia, toh sudah sepuluh tahun kita bisa bertahan tanpanya”bisik mamaku yang dari tadi memerhatikanku gelisah menatap ponsel. Ya, mama benar sudah saatnya saya berhenti hidup dalam imajinasi masa lalu, tapi sungguh saya tidak tahu apa yang saya rasakan, saya sangat ingin membencinya dan menghapusnya dari deretan nama yang ada dalam ingatanku, tapi sulit dan sangat tidak mudah memahami perasaanku sendiri, saya tidak bisa membencinya dan saya tidak bisa menyukainya seperti orang normal, saya tahu benar perasaan mamaku tapi saya benar-benar tidak bisa lepas darinya. Setiap saya mengingatnya dan merindukannya saya merasa bersalah pada mamaku. Rasa bersalah yang membuatku serbasalah dan tak tahu harus berbuat apa.
                “kita sudah sampai di depan sekolahmu dan hapus air matamu, nanti matamu sembab gara-gara nangis, nanti anak mama gak cantik, apa nanti kata teman-temanmu kalau liat kamu nangis kayak gini” Kata mama membuyarkan  lamunanku. Saya tidak sadar ternyata dari tadi saya menangis di mobil, “maaf ma, sungguh saya tidak bermaksud menyakiti mama lagi” bisikku dalam hati. Kuraih tissue yang di ulurkan mamaku lalu bergegas turun, “nanti mama jemput”, saya hanya mengangguk mendengar teriakan mamaku sambil berlari.
***
                “tumben kamu datang cepat, Ra!” sapa Shela sahabatku dari belakang sambil merangkul pundakku,
 “datang cepat... maksudnya?? Bukannya saya sudah telat”
“aduh, Tiaraaa sayang(sambil menarik kedua pipiku), hari ini tuh kita masuk siang kan kelas dipake untuk sosialisasi narkoba yang dilaksanakan osis”
“sosialisasi? Sejak kapan? Kok saya gak tahu ya?”
“lalot lagi nih anak, hello sejak kapan kalau ada sosialisasi harus lapor ke kamu dulu, makanya update jangan cuma ngurusin tumpukan animasimu itu”
“hehehe,.ya juga sih tapi seandainya saya tahu hari ini kita masuk siang, saya mending tidur lagi tadi di rumah, mana udah buru-buru juga”
“udalah kamu juga sudah di sekolahkan, mmmm,.tapi ada untungnya juga tuh kamu bisa datang pagi(ahahhaa) kan jarang miss telat ini datang pagi.., ya udah ke kantin yuk, kamu kan janji traktir hari ini pake royalti animasi yang kamu dapat dari lomba kemarin”
“yuk, tapi jangan pesan yang mahal-mahal loh”
“ssiiippp bos”
                Sampai di kantin, saya menemani shela makan. Saya biasa sarapan di rumah jadi jarang sarapan di kantin sekolah. Sambil nunggu si lelet Shela makan, saya membuka tas dan melihat ponselku yang sepi tanpa sms satupun dan untuk mengurangi rasa jenuh saya mengambil buku gambar dan mulai melanjutkan gambar animasi saya yang sempat tertunda.
“kak, dipanggil bu  Yana ke ruang eskul sekarang” kata Rika adek kelasku sekaligus satu eskul di animation club.
“okey dek, thanks infonya”
“Shel,.saya duluan ya ada kepentingan eskul, makan aja nanti saya yang bayar,”
“iyyaaa.., oiya nanti ketemu di perpus aja, biasa ngumpul sambil kerja tugas fisika”
“okey, duluan aja nanti saya ngusul” kataku sambil buru-buru ke kelas eskul.
                saya berlari menuju kelas eskul dilantai atas, saya baru ingat bahwa hari ini memang ada pertemuan untuk evaluasi anggota baru. Hari ini benar-benar kacau, saya benar-benar tidak ingat kalau hari ini ada janji.
“maaf semuanya saya telat,”
“ya masuk Tiara, silahkan duduk”
“makasih bu,” kataku langsung duduk dipojok.
“baik anak-anak, sekarang ada satu anggota baru yang bergabung dieskul kita kali ini, ayo nak perkenalkan namamu”
“hay semua, kenalkan  saya Meisya Kartika Prasetyo, saya kelas XC dan alasan saya bergabung dieskul ini karena saya suka dengan animasi dan ingin mengembangkan bakat saya dalam bidang animasi”
                Anak itu, tepatnya nama belakang “Prasetyo” yang digunakan anak itu mengingatkanku kepada seseorang. Tapi gaklah kan di dunia ini banyak yang menggunakan nama itu, tapi anehnya lagi saya merasa sangat dekat dan akrab dengan anak ini walaupun tidak pernah bertemu atau kenal sebelumnya, tapi tetap saja saya merasa anak ini tidak asing bagiku.
“Tiara, ibu menugaskan kamu untuk membimbing Meisya”
“iya bu,”
“ya sudah pertemuaan hari ini cukup, besok kita berkumpul lagi untuk membiacarakan strukrural pengurus”
                Berlahan saya keluar dari kelas dan langsung menuju ke perpustakaan, tapi bayang-bayang nama anak itu tidak bisa hilang dari pikiranku,
“kak tunggu,.”
‘Meisya,.. ada apa?” jawabku sambil berbalik kearahnya
“nih kak tadi gambarnya jatuh”katanya sambil menyodorkan gambar yang tadi sempat kubuat di kantin,
“oohh,.makasih” kataku mengambil gambar itu darinya dan melanjutkan langkahku ke perpus
“kak,.sepertinyaaa,...”
“aduh maaf ya dek, saya buru-buru” kataku lalu berlalu menuju perpus, karena sepertinya saya sudah terlambat lagi,.it’s  really late day for me.
                Seperti kegiatan biasanya sampai di perpus saya, Shela, dan Rio mengerjakan tugas fisika. Nyerah deh saya kalau soal fisika, tapi untungnya ada Shela, walaupun cerewetnya minta ampun tapi soal fisika dia luar biasa ditambah lagi Rio yang jago perhitungan , mmmm jadi saya terima beres aja paling kebagian nulisnya doang. Setelah dari perpus kami bertiga masuk kelas dan langsung belajar fisika, saya benar-benar error deh plus duduknya bareng Diva lagi, yang super duper pelit banget ngajarin orang, jadi tiap pulang sekolah saya dapat privat fisika dari Shela dan Rio.
***
                Sepulang sekolah, saya harus menunggu jemputan dan sepertinya mama akan telat jemputnya, dan saya biasa menunggu di taman baca dekat parkiran sambil mengeluarkan buku gambar, menggambar adalah hiburan tersendiri buat saya dan mampu membunuh kejenuhanku setiap kali menunggu jemputan. Menggambar juga membuat saya nyaman dan menemukan jati diri saya, mungkin ini yang orang sebut hobi bahkan lebih dari hobi.
“Ra,. Saya duluan ya so jemputan saya udah datang” teriak Shela dari pojok parkiran
“iya, see you tomorrow sister”jawabku sambil melanjutkan menggambar.
                Biasanya saya nunggu jemputan bareng Rio, tapi sepertinya sikutu buku itu lagi bimbel matematika. Saya suka matematika tapi tidak semahir Rio sih, jadi saya lebih milih eskul animasi lagian di sekolah gak bisa ambil dua eskul sekaligus.
“kak sini,.”teriak seseorang dari belakang, saya berbalik dan saya melihat Meisya anggota baru dieskluku melambaikan tangan bermaksud memanggilku, karena penasaran buat apa anak itu memanggilku jadi saya bergegas mengambil tas dan berjalan kearahnya sambil berpikir dalam hati(sok dekat banget sih ini anak),
“kak sini , saya mau kenalin kakak sama ayah saya,.” Katanya sambil menggedor pintu mobil ayahnya, menunggu ayahnya turun saya mengotak-atik ponsel untuk membaca sms dari mama,
“ayah kenalkan ini kak Tiara kakak kelas saya yang juga satu eskul dengan saya, dia jago gambar loh yah,” ayahnya kemudian keluar dari mobil dan mengulurkan tangannya kearahku,
“saya Prasetyo Wijaya, ayah Meisya”. Suara dan nama itu seketika membuyarkan konsentrasiku yang sibuk membaca sms, saya mengangkat wajah dan menatap ayah Meisya. Astaga tubuhku kaku melihat wajah dan mendengar suara itu, suara yang sangat akrab ditelingaku. Wajah itu, wajah yang kurindukan selama sepuluh tahun, suara itu suara yang kunantikan selama sepuluh tahun pula, kini hadir dihadapanku dengan sangat jelas dan dekat. Ya, dia ayahku , ayah yang terakhir kali kulihat sepuluh tahun lalu setelah ia bercerai dengan mamaku. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, memeluknya dengan erat atau hanya diam tanpa respon, saya rasanya ingin melepas kangen yang ku pendam selama sepuluh tahun, rindu seorang anak terhadap ayahnya, tapi saya tidak bisa!.
“hai nak, kamu kenapa?kurang enak badan?” sapanya lagi. Bahkan dia sama sekali tidak mengenalku, sambil menahan tangis saya menyambut tangannya ,
“oohh.saya Tiiiaarraa,” jawabku terbatah. Tanpa berpikir dua kali lagi saya langsung berlari entah menuju kemana yang pasti pergi dari hadapan orang tersebut, terlalu menyakitkan buat saya mengungkit masa lalu ini lagi.
                Entah ini jawaban dari doaku yang mengharapkan kehadirannya dihari ulang tahunku, tapi sepertinya saya tidak siap untuk itu bertemunya kembali pada perayaan ulang tahunku. Saya berlari makin kencang, karena hanya dengan berlari saya bisa menghela nafas dan meluapkan semua perasaanku. Tanpa sadar saya tiba di kelas, saya langsung duduk di bangkuku dan meluapkan seluruh perasaanku, tak ada yang lain yang saya lakukan selain menangis. Kejadian tadi  membawaku kembali kememori kelam yang ingin saya lupakan dan kubur dalam-dalam.
                Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya hari ulang tahunku yang keenam, saya merayakan ulang tahun di rumah dengan meriah seperti halnya anak-anak pada umumnya. Namun pada malam harinya, mama dan  Ayahku terlibat pertengkaran keras, tapi saya masih terlalu kecil untuk memahami alasan pertengkaran itu dan emosi orang dewasa, saat mereka bertengkar saya berlari kearah ayahku yang saat itu baru pulang dari luar negeri sambil berkata “yah, kado yang Tiara pesan adakan, mana kadonya yah, adakan, Tiara mau liat yah,.yahh”kataku sambil merengek ke ayahku. Dan secara tiba-tiba ayah melempat kue tar berserta piring yang ada disampingnya kewajahku, kue tar dan pecahan piring itu mengenai mataku, serpihan piring itu rasanya mencabit-cabit mataku sampai semuanya gelap dan membuat saya tidak sadarkan diri. Hal itu membuat saya harus menjalani operasi mata di Singapura untuk membersihkan efek kue tar dan mengangkat beling yang menancap dimataku dan tidak hanya itu saya sempat mengalami kebutaan selama  setahun sampai akhirnya saya mendapatkan donor kornea dan melakukan operasi yang kedua kalinya di Singapura. Sampai detik ini saya tidak mengerti alasan pertengkaran mereka, yang sempat terekam oleh indra pendengarku hanya kata “khilaf” yang di ucapkan oleh ayahku. Entah apa makna dari kata “khilaf” yang diucapkannya yang sampai hari ini pun saya belum mengerti. Yang ku tahu karena kata itu mereka bertengkar, karena kata itu mamaku membenci ayahku, karena kata itu mereka berpisah, karena kata itu saya merasakan sakitnya operasi kornea mata, karena kata itu mamaku menangis, karena kata itu kami berdua pindah dari Bandung ke Jakarta, dan karena kata itu saya terjebak dalam ketakutan terhadap masa lalu dan kue tar. Saya benar-benar tidak mengerti dan tidak ingin mengerti, bahkan saya tidak ingin dibuat mengerti sedikitpun. Sampai 10 tahun berlalu, sampai semuanya dianggap pulih dan membaik, tapi ketakutanku tetap sama sperti  10 tahun yang lalu. Saya ingin membenci ayahku yang hanya dapat membuat mama menangis, saya ingin dendam padanya yang telah merebut kornea mataku serta masa kanak-kanakku, saya ingin membunuhnya saat melihat mama stres dengan kondisiku saat mengalami kebutaan, saya ingin mencacinya tanpa ampun. Tapi, saya tidak bisa, sungguh tidak bisa. Entah kenapa hatiku selalu memaafkan semua perbuatannya, tapi setiap kali saya menyaksikan mama bekerja keras untuk penghidupan kami berdua, saya merasa benci padanya tapi rasa benci itu tidak mampu mengalahkan rasa sayangku padanya, apapun itu toh dia tetap ayahku, walau dia seorang penjahat sekalipun itu tidak akan merubah bahwa dia ayahku. Namun tetap saja sosoknya terlalu menyakitkan bagi mamaku, saya bingung dan tidak tahu, saya ingin sekali membencinya tapi saya tidak bisa. Saya lebih rela tidak melihat seumur hidup daripada harus membencinya, tapi tiap melihatnya wajah mamaku selalu terbayang sehingga saya juga tidak dapat menyukainya.
“Ra, Tiara,..kamu baik-baik aja?” kudengar suara Rio dan Shela menggoyang-goyangkan tubuhku, saya yang dari tadi duduk dan menundukkan kepala kemudian berlahan membangkitkan tubuhku,
“kamu kenapa Ra?ada apa? Cerita sama saya, tadi mama mu nelpon  katanya dia gak bisa jemput kamu dan kamu belum pulang jadi saya dan Rio menyusulmu kesini, karena ponselmu juga tidak aktif”
“iya Ra Shela benar, tadi saya ketemu Meisya yang anak kelas X di parkiran dan  katanya tadi kamu lari gak jelas, emang kamu kenapa Ra?” tandas Rio.
“saya gak apa-apa kok, sekarang saya mau pulang”. Untuk masalah yang satu ini saya memang tidak pernah cerita kesiapapun bahkan kesahabatku Shela dan Rio sekalipun.
“ya sudah saya bawa mobil kok, yuk saya antar” kata Rio sambil memapahku berdiri.
“saya bisa jalan sendiri kok”
                Mereka berdua mengantarku pulang dan  dimobil saya hanya diam, saya masih trauma bahkan saya tidak tahu apa yang saya pikirkan. Mereka berdua juga diam, mereka adalah sahabat terbaikku, mereka mngerti kondisiku dan mereka tahu bahwa saya tidak ingin berbagi cerita ini kemereka sehingga mereka tidak banyak bertanya, mereka berdua selalu ada disaat saya butuh mereka walaupun saya tidak bisa terbuka soal masalah ini tapi mereka berdua tidak pernah meninggalkanku.
                Tidak terasa saya sudah tiba di rumah, “sepertinya rumahmu masih sepi Ra, mungkin mamamu belum pulang, mau kami temani dulu sampai mamamu pulang?” Tanya Shela
“gak usah, abis ini saya mau tidur, capek! Kalian pulang saja, okey see you !”
“okey, tapi kalau kamu butuh sesuatu telpon kami saja” tegas Rio
                Saya hanya mengangguk mengiyakan perkataan Rio dan Shela, dan menyusun langkah masuk ke rumah. Ya, mamaku memang belum pulang, saya hanya masuk ke kamar dan langsung berbaring dan berharap dapat tertidur untuk sejenak melupakan masalah ini.
***
“Ra,.ayo sarapan!”panggil mama, saya langsung turun kemeja makan.
“kamu gak enak badan ya??kok pucat gitu?”
“kemarin saya bertemu dia ma,..”
“dia? Dia sapa?”
“Prasetyo Wijaya,..”
“dimana kamu bertemu orang itu, bukankah mama sudah bilang kalau kamu tidak usah mencari atau bertemu dengannya, dia sudah punya kehidupannya sendiri begitupun kita, apa kamu mengerti perasaan mama?”
“kalau saya mengerti perasaan mama, apa mama juga mengerti perasaan saya? Apa mama tahu saya seperti orang bodoh saat orang-orang bertanya tentang ayah saya, saya tidak dapat menjawab sepatah katapun, karena apa ma?? Karena saya tidak tahu. Saya mengerti perasaan mama dan bahkan sangat mengerti, tapi ini terlalu berat buat saya ma, phobia terhadap kue tar yang tidak bisa saya jelaskan atau bahkan nama saya TIARA PRSIYAH P. Yang menyandang nama belakang “P” namun saya tidak dapat menjelaskan makna huruf P dibelakang namaku saat teman-temanku bertanya tentang itu, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan apakah “P” berarti Pratama nama kakek atau Prasetyo nama ayahku,..saya tidak tahu ma! Kenapa sangat sulit buat saya memakai nama belakang ayahku sendiri karena pertengakaran kalian berdua, apakah mama juga tahu, perasaan yang saya rasakan saat seorang anak dengan bangga dan leluasanya menyandang nama Prasetyo dibelakang namanya, bahkan apa mama juga mau tahu sakit hati yang saya rasakan saat anak itu memperkenalkan dengan bangga ayahnya yang bernama Prasetyo Wijaya dihadapanku, sakit rasanya ma, ini lebih sakit daripada sayatan beling dimataku. Saat ayah saya sendiri tidak mengenaliku,..coba mama pikir, saya tidak tahu kenakalan apa yang telah saya lakukan sehingga saya menerima ini semua, sudah 10 tahun saya menahan beban ini ma,.tampil seolah tanpa persoalan sedikitpun, inilah batas kemampuanku ma. Saya sudah mencoba menerima semua kenyataan ini dan mencoba tegas ma, tapi maafkan saya ma saya tidak bisa, saya tidak bermaksud lancang ataupun tidak sopan tapi ini yang saya rasakan selama 10 tahun. Saya tahu kalian bercerai dan saya pun tidak berharap kalian bersatu lagi, saya hanya berusaha hidup normal seperti yang lain ma gak lebih. Asal mama tahu, anak ayah yang sekarang bernama Meisya Kartika Prasetyo. Bukankah saya memiliki hak yang sama dengannya menyandang nama itu, saya terkadang iri ma atau bahkan benar-benar iri padanya. Saya tidak tahu harus membela siapa, saya juga tidak membela ayah, maa.. saya juga kecewa dengan kondisi ini, ayah saya sendiri bahkan lupa dengan ulang tahun saya, tapi dia tidak pernah lupa menjemput Meisya setiap hari. Tolong maa, saya tidak tahu apa yang saya rasakan, perasaan ini bisa membuat saya gila ma. Begitu nakalkah saya untuk menerima hal ini” kataku terisak sambil menghapus air mataku yang tak berhenti mengalir.
                Mama terdiam kutatap wajahnya meneteskan air mata, demi Tuhan saya tidak bermaksud menyakitinya pagi ini tapi saya juga tidak dapat menahan perasaan ini lagi. Dan tiba-tiba Mama mendekat dan memelukku,
 “maaf,..maaf,.maaf, maafkan kami berdua nak, kamu jadi korban keegoisan kami, ya,.mama memahami perasaanmu, ini semua salah mama, maafkan mama yang membuatmu menahan beban sebesar ini... tolong maafkan mama, kalau kamu mau silahkan marahi mama, karena mama pantas menerima kemarahanmu,.ayoo nak marahi mama!!”
“tidak ma, tidak akan. Sampai kapanpun saya tidak akan memarahi mama, saya tahu betapa beratnya hidup yang mama jalani sebagai single parent untuk menghidupi saya, jadi bagaimana bisa saya memarahi mama. Saya tidak ingin menyalahkan siapapun, mungkin memang sudah seharusnya seperti ini. Namun saya hanya mencoba mengungkapakan perasaan sesak yang saya tahan ma”
                Tiba-tiba ponselku berbunyi dan ternyata itu sms dari Shela :”sy ada d dpn,qt brngkt brng aja, skrg lho kluar,..gue tunggu so gue lg bw mobil nih”. Membaca sms itu saya langsung bergegas keluar, “Maa.. saya duluan, Shela ada didepan!”, “iya sayang, hati-hati”.
                “mata lho kok sembab Ra?” tanya Shela padaku saat masuk mobil
                “iyaa.. tadi abis nangis, biasa ada problem dikit ma mama” jawabku lesu
                “ya udah lho punya kacamata minus kan? Pake aja supaya gak terlalu nampak”. Tanpa berpikir dua kali saya langsung membuka tas untuk mengambil kacamata, “astaga, undangannya”
“undangan apa?” tanya Shela. “undangan pameran hari ini, saya lupa ngasih kemama tadi, tapi ya udahlah mama paling udah berangkat ke kantor nanti saya sms aja”
***
                Sampai di sekolah saya langsung menuju  ke ruang pameran bersama Shela dan Rio. Sesampai di ruang pameran saya langsung menuju lokasi gambar saya untuk melihat hasil penilaian juri,”Ra, selamat ya sketsamu berhasil menang dan akan mewakili Indonesia kefestival asean competition” kata bu Yana menyapaku. Saya hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan bu Yana,karena saya lebih befokus pada percakapan Meisya dan ayahnya sekaligus ayahku juga,
“sudahlah sayang, gambar kamu bagus kok, ya mungkin bukan rezekimu aja kali ini, ayah tetap salut kok sama kamu. Ayah bangga punya anak kayak kamu dan ayah yakin someday you can be a winner”
“makasih yah,... saya juga bangga punya ayah kayak ayah”
Saya merasa iri mendengar percakapann mereka, sejak kecil saya menekuni dunia menggambar karena dorongan ayah dan saya ingin membuat ayah bangga, tapi tak sedikitpun saya mendapatkan pujian darinya. Jenuh mendengar perbincangan mereka yang hanya membuat saya iri, saya langsung keluar dan bermaksud pulang. “Ra,..Tiara”panggil mamaku dari belakang, “mama?ngapain disini?”,”aduh kamu ini mama mau ngucapin selamatlah kekamu dan sebagai hadiahnya mama mau ngajak kamu ke Bandung ke rumah kita dulu”. Saya kaget, kenapa mama bisa mengajak saya ke Bandung setelah 10 tahun kami tak pernah kesana lagi, tanpa penolakan saya langsung masuk ke mobil.
                Sampai di Bandung kami disambut sama pak Tono yang juga merupakan satpam yang menempati rumah ini selama saya dan mama pindah ke Jakarta. Tanpa berpikir panjang saya langsung menuju ke kamar saya, “dan astaga! Saya kaget luar biasa, “pakkk Toonnooo kemari pak!”teriakku histeris,”ada apa neng?”, “benda-benda ini dari mana?’, “oohhh,.itu kiriman buat neng selama ini setiap tanggal 17 februari, bapak gak tahu atuh neng mau nyimpennya dimana, sok atuh saya simpan di kamarnya eneng”, saya berlahan mendekati barang-barang itu. Kamar saya penuh dengan pot-pot bunga tulip, kue tar yang sudah basi dan masih baru, bahkan komik detektif konan kesukaanku. Benda-benda ini adalah barang kesukaanku enam tahun silam dan sekarang menjadi barang phobia buat saya, menahan rasa takut saya mendekati barang-barang itu dan mencari nama pengirimnya dan ternyata tercantum dalam alamat pengirimnya atas nama Prasetyo Wijaya, saya tersentak kaget melihat nama itu. Dengan kumpulan kartu ucapan selamat ulang tahun kubaca pelan dan berlahan :” selamat ulang tahun sayang, kamu baik-baik aja kan, ayah masih terlalu pengecut tuk datang kehadapanmu setelah apa yang ayah lakukan. Bersama benda-benda ini ayah kirimkan salam rindu buat anak ayah, maafkan ayah nak... sampai tiba waktunya nanti ayah sangat ingin bertemu denganmu dan berlutut memohon maaf atas kesalahan ayah, semoga kau bahagia...salam hangat ayah yang merindukanmu”. Membaca kartu ucapan itu membuat air mataku mengalir tak terbendung, “aayahhh,..aayahhh,..ayah..”hanya itu kata yang terucap dari bibirku diantara tumpukan benda-benda yang dikirm ayahku tiap tahunnya setelah berpisah dengan mamaku.
“astaga Tiara,..kamu kenapa sayang?” teriak mamaku saat melihatku didalam kamar,
“maa... ayah ma, semua benda-benda ini dari ayah.. ayah tidak lupa hari ulang tahunku. Ayah ma..ayah!”kataku memeluk mama. Kenapa tidak dari dulu saya mengetahui ini semua. Nada dering ponselku dengan seketika mengagetkanku, kuraih ponselku yang kuletakan diatas meja dan ternyata itu telpon dari Shela,”hallo Ra, kamu dimana sekarang?” tanya Shela dengan nada terburu-buru,
“saya lagi di Bandung, emang napa? Ada masalah?” tanyaku lesu dan sedikit penasaran
“kamu kenal Meisya kan? Yang satu eskul kamu itu, dia barusan mengalami kecelakaan beruntun bersama ayah dan ibunya dan kondisinya kristis, sekarang saya ma Rio ada di RS tadi kami yang ngantar mereka kemari”
Saya lemas mendengar perkataan Shela, saya berbalik ke mamaku “maa.. ayah dan keluarganya mengalami kecelakaan dan sekarang sedang kritis di RS”. Tanpa berpikir lagi, mama langsung menarikku dan berlari ke mobil untuk kembali ke Jakarta. Saya melihat jelas wajah kuatir mamaku sekaligus wajah ketakutan dan kesedihan yang begitu jelas. Dan tanpa terasa perjalanan Bandung-Jakarta kami tempuh dalam waktu satu jam dua pluh menit padahal biasanya sampai 2 jam lebih. Saya dan mama langsung menuju rumah sakit dan menemui Shela, “Shel..dimana mereka”, “Meisya dan ibunya ada diruang operasi, tapi ayahnya tidak mau dioperasi dan masih di bujuk oleh dokter untuk operasi”. Saya dan mama langsung berlari menuju kamar pasien, “Aayaahhh..ini saya Tiara anak ayah”teriakku lari memmeluknya,”Tiara?? Anak ayah?”ucapnya sambil menyentuh wajahku dengan gemetar, “iya yah ni Tiara, ayah harus mau dioperasi ya, Tiara sayang sama ayah dan sekarang ayah harus turut apa kata Tiara,ya ayah?”, “tiiddakk,..ayah mau ucapkan selamat ulang tahunn padamu nak, ayah tidak bisa lagi menemanimu, sekarang buka tas ayah disitu ada sesuatu untukmu”. Kubuka tas itu dan kudekatkan kewajah ayah,”itu kue tar dan lilin nyalakanlah nak ayah ingin merayakannya tuk terakhir kalinya dan menebus janji-janji ayah kekamu”. Saya langsung menuruti permintaannya dan ini untuk pertama kalinya saya memberanikan diri menyentuh kue tar,”tiup lilinnya sayang,.”. saya mendengar ayah menyanyikan lagu selamat ulang tahun walaupun tidak begitu jelas.tangannya yang makin gemetaran menyentuh wajahku, “sekali lagi maafkan ayahmu ini yang tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu, menemanimu tumbuh dewasa dan menjagamu, maafkan ayah nak...maaf..maaf..maafkan ayah nak, ayah sangat menyayangimu nak!”, “iya yah, saya sudah memaafkan ayah dan saya juga sangat menyayangi ayah, makasih juga buat kado-kadonya yah”, “tumbuhlah jadi seorang artsitek hebat, ayah bangga punya anak sepertimu, kau kebanggaan ayah nak dan sampaikan juga maaf ayah pada mamamu yang telah membuat hidup kalian berdua hancur dan satu lagi pesan ayah yaitu kamu punya adik bernama Meisya, tolong jaga dan bimbing dia demi ayah”katanya menghela nafas panjang.”ayah,.ayah? aaayyyaaaahhhh?ayah kenapa?ayo bicara yah?”teriakku histeris.”aaaaaaaaaayyyyyaaaaaaahhhh!”. ibuku yang juga ikut menangis mencoba menenangkanku, ya batas kesanggupan penopang takdir telah tiba, ubun-ubunnya telah melepas rohnya pergi dan melayang “innalillahi wainnailaihi rajiun,.bisik ibuku ketelingaku. Bisikan itu membuat tangisku memuncak,” kenapa secepat ini Tuhan, tidakkah kau paham dan memberiku waktu sebentar lagi”gumamku. Mama tak hentinya mencoba menenangkanku “istigfar nak, ini sudah jalan ayahmu..tak ada manusia yang mampu menentang kehendak sang pencipta, yakinlah jalan Tuhan itu benar dan membenarkan,istigfar nak!”
                Seketika kejadian ini menyerangku hingga tak berdaya, pikiranku melayang dan tidak terbendung, saya bekabung begitu dalam dan teramat dalam. Diakhir hidupnya setidaknya ayah sudah menjelaskan semua kesalahpahaman ini padaku dan mama. Inilah takdir kehendak Tuhan, betapa saya tak dapat melawannya sedikitpun. Disisi lain kondisi Meisya dan ibunya masih tetap kritis. Sebulan setelah speninggalan ayah mereka masih koma, saya dan mama bergilir menjagai mereka di rumah sakit. Selama setahun saya dan mama menjaga mereka yang masih koma di rumah sakit. Namun, diluar dugaan mama mendapatkan pindah tugas ke singapura dan kami berdua harus tinggal di sana, begitupun saya yang medapatkan beasiswa di Nanyang University difakultas desain animation. Berat buat kami harus meninggalkan Meisya dan ibunya tapi kami tidak dapat berbuat apa-apa, kami harus pergi. Meisya dan ibunya dirawat oleh saudara ibunya selama kami pergi. Tapi kami berdua tetap berusaha mengikuti perkembangan kondisinya, biar bagaimanapun Meisya adalah adik saya dan dia tanggungjawab saya, saya masih punya satu untang padanya yaitu mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan kami karena dia berhak tahu tentang itu.
***
                Selama 6 bulan pertama di singapura kami masih mendapatkan info tentang Meisya dan ibunya yang belum sadarkan diri. Tapi, akhir-akhir ini komunikasi kami terputus dan sudah dua tahun setengah saya dan mama saya tidak mendapatkan info tentang Meisya dan ibunya, entah bagaimana kondisi mereka saat ini, kami telah mengupayakan segala cara untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan mereka namun tetap saja hasilnya nihil.Tidak terasa kami sudah 3 tahun lebih tinggal di Singapura, dan kuliah saya juga sudah selesai tinggal nunggu wisuda saja. Rasanya kangen juga dengan tanah air dan kondisi sahabatku Shela dan Rio di Indonesia.
Dan pada akhirnya saya dan mama saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia sekaligus menghadiri pernikahan Shela dan Rio. Tepat pada perayaan ulang tahunku 17 februari, kami tiba di Indonesia tepatnya di rumah kami di Bandung.setiba di rumah, seperti biasa kami disambut keluarga pak Yono yang menempati rumah tersebut, lega rasanya sampai di rumah melepas kangen dengan tulip-tulipku dan sekarang saya tidak phobia lagi dengan kue tar. Tibanya disana saya langsung menuju ke kamar tuk mengulas memori masa lalu. Sekarang saya sudah cukup dewasa, tidak lagi menangis dengan kenangan pahit itu, saya setidaknya semua masalah telah mendewasakanku.
“wehh non,.baru sampai sudah dapat kiriman tuh?”tegur pak Yono menjulurkan kiriman pake itu kearahku, saya menerka mungkin ini dari Shela dan Rio, kubuka paket itu ternyata berisikan bibit bunga tulip, kue tar, dan komik detektif konan. Saya melihat nama pengirimnya yang sontak membuatku kaget bertuliskan : FROM: PRASETYO WIJAYA. Saya benar-benar kaget menerima paket itu, ini merupakan hal yang mustahil. Saya berlari ke mobil dan menuju ke kantor pos, setibanya disana saya mencari petugas adminstrasinya tuk menanyakan kebenaran paket ini,
“pak,.saya mau nanya paket yang saya kirim apa sudah sampai ke alamat Tiara Prisyah P?” kudengar orang itu menyebut namaku dan saya langsung berbalik. Dan ternyata dugaanku benar itu adalah Meisya adikku, saya langsung memeluknya, “Meisya adikku ini saya Tiara Prisyah P yang kamu cari?”
“tolong lepaskan pelukan anda!(jawabnya sinis), apa maksud anda? Saya mengirim paket ini memang untuk TIARA PRISYAH P, tapi saya tidak mngenalnya saya hanya menjalankan perintah ayah saya yang selalu menyuruhku mengirim paket kealamat itu bahkan sampai dia meninggal dia tetap berpesan hal yang sama”.lanjutnya. Saya langsung mengajaknya duduk dan menjelaskan semuanya, matanya berbinar dan kembali memelukku. Ayah benar-benar hebat, dia secara tidak langsung memperkenalkan kami. Ku jelaskan padanya tentang semua kejadian beberapa tahun lalu.
                Singkat cerita keluargaku kembali berkumpul dengan Meisya serta ibunya di Bandung dan juga menghadiri pernikahan kedua sahabat terbaikku Shela dan Rio yang menjadi sepasang suami istri.begitu sempurna rencana Tuhan ini, ternyata Tuhan menyampaikan maksudnya dengan cara yang luar biasa, dan untuk pertama kalinya saya berdiri di mimbar sebagai mahasiswa lulusan terbaik dan satu kalimat pembuka yang saya ucapakan “ hadirin, perkenalkan nama saya TIARA PRISYAH PRASETYO” untuk pertama kalinya saya berdiri tegak dengan nama belakang ayahku didepan dunia.
***

Senin, 17 Oktober 2011

THIS IS FOR YOU and JUST FOR YOU

Mengotak-atik pikiran dan imajinasi malam ini yang sedang menerawang jauh entah apa dan sampai dimana. Mencoba menghabiskan malam untuk menulis dan tidak hanya duduk didepan laptop sambil bermain FB or twitter yang kadang menyita waktu. Mulai mencari inspirasi apa yang akan saya tulis namun semuanya buntu. Dan seperti biasa kalau kakak lagi ngisi pulsa modem saya bisa numpang ol deh (heehee *dasar numpang gratisan)sambil duduk didepan tv bersama ibu saya tercinta yang asik nonton. Yach,..aktivitas malam hari yang sangat lazim seperti malam sebelumnya. Saya menatap dalam keacara tv yang sedang ibuku tonton, acara favoritnya itu yang berjudul "Jika Aku Menjadi" yang selalu buat dia nangis sendiri didepan tv . Program tv itu hampir berakhir dan saya tidak menemukan inspirasi sedikitpun, wuhhhh,... padahal acara tv itu kata orang-orang sangat inspiratif #promodeh.
"apa kamu pernah berpikir tentang masa depan?"
"tentang apa yang kamu inginkan?"
"tentang seperti apa kamu 5 atau 7 tahun yang akan datang?"
"tentang sulitnya jalan kamu kedepan yang harus kamu persiapkan sekarang?"
"Pikkiriki, ko tenniaya iko pikkiriki alemu nigasi, de' tu na engka tu'tu tamatoamu paringerrangiko!!(bahasa bugis yang artinya : pikirkan, sapa lagi yang memikirkan masa depanmu kalau bukan kamu, tidak selamanya orang tua berada disisimu untuk mengingatkan)"
Tiba-tiba lontaran pertanyaan itu menghujaniku dari belakang, ya...itu suara ibuku dengan logat bugisnya. Saya tidak tahu dari mana beliau langsung mendapatkan kata-kata itu, mungkin dari acara tv yang di nontonnya tadi atau suatu suara malaikat dari dalam hatinya, entahlah!! tapi kata-kata itu langsung menjelma di pikiranku, sempat ku hentikan kegiatan beberapa menit setelah mendengar ucapan itu dan saya tidak tahu  jawaban apa yang harus saya lontarkan kecuali diam dan tak ada pikiran lain. Ya benar, itu inspirasi yang saya cari dan terlontar dari mulut ibuku, saya jauh-jauh mencari inspirasi kedalam program tv padahal sebenarnya inspirasi itu ada sejak tadi disampingku. Inspirasi agung yang tak pernah saya sadari dan berada sangat dekat denganku.
Saya lalu berpikir dan menganalisa perkataan ibuku itu, dan saya rasa bukan cuma ibuku tapi semua ibu di dunia akan memiliki arsip-arsip pertayaan yang sama untuk anak-anak mereka. Tentunya, tak ada jiwa besar seperti itu yang meluangkan seluruh hidupnya untuk sosok anak muda yang sebagian besar menyia-yiakan hidupnya dan tak pernah memikirkan hidupnya kedepan sedangkan seorang ibu bersusah payah untuk hal itu padahal ini tentang masa depan kita. Siapalagi kalau bukan seorang wanita yang setiap harinya mulai renta dan pikun namun dia tak pernah lupa dan pikun walau semenitpun untuk memikirkan masa depan kita, jangankan masa depan soal makan saja selalu beliau ingatkan.
Tidak bisa saya pungkiri bahwa saya juga menjadi bagian dari anak muda yang kadang tidak berpikir kearah sana. Mmmmm,..facebook dan bermain game ol misalnya, yang menghabiskan waktu saya namun saya tidak tahu apa yang saya dapatkan. Bermain dengan santai, hang out, ngumpul gak jelas atau hanya sekedar senang-senang saja kami lakukan tanpa beban. Padahal di rumah ada wanita dengan rambutnya yang mulai memutih bersujud dilelapnya malam tuk mendoakan anaknya, menghitung receh demi receh yang dikumpulkannya untuk biaya sekolah anaknya, dan dimulutnya pun tak pernah lepas dari lantunan doa keselamatan dan kesuksesan bagi anak-anaknya. Sosok itu terkadang terlelap dengan pikiran tentang masa depan anak-anaknya, namun kami biasanya terlelap dengan hp dan tumpukan sms yang tidak penting.
Benar, jiwa itu adalah malaikat yang selalu ada tanpa kita minta yang bersedia memberikan segalanya untuk masa depan kita.
Saya berbalik dan mencoba menjawa pertanyaan itu dengna satu kalimat yang dapat mendefenisikan semuanya " SAYA TIDAK TAHU". Sontak jawabanku membuat ibuku tersenyum kecil dan merespon dengan jawaban "itulah yang harus kamu cari, dan disaat kamu memperolehnya ituah yang harus kamu perjuangkan, sudah sana tutup notebooknya dan tidur besok jangan sampai terlambat lagi". Waw jawaban yang tidak terduga, tapi kali ini setidaknya memberikan sedikit pembuka cakrawala buat saya. Saya, kamu, kalian dan kita harus mencari tujuan itu dan memperjuangkannya. Jujur saya pun belum tahu dengan pasti apa yang saya inginkan, menjadi apa saya kedepannya, dan apa yang harus saya lakukan untuk mewujudkannya. Namun saya harus mencarinya, mustahil saya akan menemukan itu kalau saya tidak berusaha mencarinya dan tentunya memperjuangkannya. Seperti banyak halnya remaja yang galau akan masa depannya, sekarang saya juga berada dititik itu tapi kini setidaknya saya tahu apa yag harus saya lakukan, seperti pesan ibuku "Pikkiriki, ko tenniaya iko pikkiriki alemu nigasi, de' tu na engka tu'tu tamatoamu paringerrangiko!!(bahasa bugis yang artinya : pikirkan, sapa lagi yang memikirkan masa depanmu kalau bukan kamu, tidak selamanya orang tua berada disisimu untuk mengingatkan)". Tapi kata-kata terakhir dari pesan itu tentang de' tu na engka tu'tu tamatoamu paringerrangiko!! Sepertinya saya pribadi belum siap. Jangan Tuhan, jangan sekarang karena saya masih butuh beliau disini dan selamanya membutuhkan beliau.
Waktu sudah menunjukkan jam 22.36 WITA, dan sebelum menyudahi tulisan ini saya ingin memberikan seuntai kata buat inspiratorku malam ini:
UNTUKMU YANG BERJIWA MALAIKAT
Tak ku tahu kata apa yang harus kutuliskan untuk medefinisikan jiwamu
Jiwa malaikat yang menjagaku ditiap tidurku
Melindungiku ditiap tangisku
Menghiburku ditiap dukaku
Mendekapku ditiap piluku

Sosok yang memberikan pintu maaf tanpa batas
Akan kedurhakaan dan kelancangan jiwaku
Sosok yang terbangun dalam lelapnya malam
Untuk memohonkan ampun atas segala dosa-dosaku
Terbangun bersama subuh yang dingin
Melangkahkan kaki menjejakkan butiran masa depanku
Demi sang durhaka yang masih lelap tertidur


Maaf,..maaf,..maafkan jiwa hina dan nakal ini
Yang hanya membuat air matamu menetes dalam kesedihan
Membuat jiwamu kwatir dan bahkan kesakitan
Akan tingkah yang kadang tak bermoral yang mencoreng wajahmu

Dan terima kasih untuk semua yang engkau korbankan
Demi kehidupan anak yang tak tahu malu ini
Ibuku,..
Saaya tahu saya belum dapa menemukan tujuan saya secara jelas dan pasti. Namun, yang saya tahu sekarrang ini bahwa tujuan dan kesuksesan apapun yang saya raih THIS IS FOR YOU and JUST FOR YOU, segala tujunku an pencapaianku hanya untukmu ibu. 
*untuk ibu di seluruh dunia, kupersembahkan coretan kata ini untukmu, tetaplah jadi malaikat untuk kami anak-anakmu dan terima kasih untuk segala pengorbananmu*.







Minggu, 19 Juni 2011

BERTEMU 3 MALAIKAT DI RUMAH TUHAN



Beberapa waktu lalu, saya dan  kakak saya pergi melaksanakan shalat isya di salah satu mesjid yang ada di wilayah tempat tinggal saya. Ya biasanya untuk shalat magrib dan isya, kami sering melakukannya di mesjid. Seperti biasa jamaahnya gak terlalu banyak sih tapi ibadahnya sangat kusyuk hal itu yang membuat saya cukup nyaman. Walaupun sesekali ada anak kecil yang bikin gaduh saat shalat, tapi gak apa-apalah kan mereka masih anak-anak.

Untuk beberapa kesempatan saya dan kakak saya berangkatnya setelah adzan, mmmmm berhubung saya juga orangnya lelet jadi kakak saya biasanya marah gitu,.heheheehehhe udah kebiasan sih. Sebelum saya sering ikut kakak saya ke mesjid, dia sering cerita kalau ada anak NTT yang cara adzannya bagus banget. Mmmmm ada rasa penasaran sih seberapa bagusnya, dan pas sore ini sebelum berangkat ke mesjid saya dengar suara adzannya wah Subhanallah ternyata bagusnya gak kalah dengan adzan-adzan di TV. Ya maklumlah karena ini hal baru, soalnya yang biasa adzan itu pak imam karena bisa di bilang juga jarang anak-anak yang adzan di mesjid sih selain pak imam atau pak ustadz yang emang ngurus mesjid gitu. dan saya udah liat orangnya yang adzan wah anak itu adzannya hebat. Tapi saya gak kenal ama anak itu, mungkin orang baru di lingkungan rumah saya, tapi syukurlah orang baru yang  membawa perubahan yang positif. Dan hebatnya lagi dia kalau ke mesjid itu jalan kaki dan rumahnya lebih jauh dari rumah saya, dan walaupun rumahnya lebih jauh tapi dia datangnya paling cepat padahal saya ma kakak saya aja yang naik motor itu datangnya kalau habis dia adzan. Wah jadi malu ma dia hehehhheheheee. Ada satu hal yang saya pelajari dari dia, mungkin yang dia lakukan, itulah yang dikatakan iman. Iman yang menjalankan kakinya menuju ke mesijd walaupun jaraknya lumayan jauh dan dengan iman pula dia adzan menggunakan hati dan penuh penghayatan sehingga kami yang dengarpun merasa damai dan satu lagi dia adzan tanpa rasa malu sedikit pun padahal bisa dibilang di situ gak ada yang kenal ma dia. Iman memang luar biasa yang mampu medekatkan Tuhan dan hambaNya. Maka gak salah dan gak berlebihan kalau saya menyebutnya malaikat di tengah era moderenitas yang menimpa lingkungan saya.

Tidak sampai di situ saja pengalaman saya hari itu, sebelum shalat isya dimulai imam memberikan anjuran untuk merapatkan syaf semua jamaah. Dan ada seorang anak perempuan yang tidak membawa sejadah tapi gak masalah sih kan di mesjid ada sejadah karpet yang membentang.Jadi saya cuma berlalu saja dan mencari barisan yang kosong, dan Subhanallah seorang ibu dan satu-satunya jamaah wanita pada saat itu yang berdiri di samping anak perempuan itu membentangkan sejadahnya di depan anak itu secara horizontal sehingga sebuah sejadah yang dibawanya ia bagi dengan anak itu dan pada akhirnya anak itu menggunakan sejadah ibu itu. Wah benar-benar luar biasa, mungikin bagi jamaah lain itu hal biasa tapi buat saya itu sungguh luar biasa. Ya memang hanya hal kecil tapi saya mendapat pemaknaan hebat didalamnya. Ibu itu memperlihatkan bahwa berbagi itu dimulai dari hal kecil dan tentunya dasar dari semua itu adalah ikhlas. Anak itupun kaget melihat tindakan ibu itu namun dia hanya tersenyum tipis. Saya sadar betul setelah ibu itu membentangkan sejadahnya, bahwa membantu itu bukan hanya pada batasan materi. Ibu itu benar-benar hebat dan mampu membuka pemahaman saya tentang ikhlas dan tolong menolong  walaupun anak itu tidak berterima kasih tapi ibu itu tetap tersenyum. Ya ibu itu adalah malaikat ke dua yang saya  temui setelah anak yang adzan tadi. Malaikat ke ikhlasan di rumah Tuhan yang sungguh luar biasa.

Ternyata dan satu lagi, pas tadi waktu shalat saya berdekatan dengan anak kecil yang usianya sekitar  5 atau 6 tahunan gitu,mmmmmm sebenarnya anak itu lumayan mengganggu konsentrasi saya waktu shalat. Tahu  gak anak itu mengikuti gerak-gerik saya waktu shalat mulai dari batuk sampai bersin sekaligus, ya karena waktu itu saya memang agak flu. Dan hampir semua tindakan saya di tirunya sampai-sampai gaya saya doa pun diikuti dan yang paling parahnya lagi saat saya pindah shalat sunnah isya dianya juga ikut di samping saya, apalagi yang anak itu lakukan kalau gak ngikutin gerakan saya.Padahal saya tidak kenal sama sekali dengan anak itu, saya cuma tahu kalau anak itu tinggal didekat mesjid situ .Huhuhhuuuu,..konsentrasi saya buyar plus-plus gara-gara anak itu, tapi pas saya mau negur anak itu cuma senyum.Selesai shalat sunnah semua orang sudah bergegas pulang dan anak itupun begitu. Tapi saya masih agak sebel ma anak kecil itu.Pas keluar dari mesjid saya memperhatikan anak itu berjalan menuju rumahnya ke utara dari mesjid, saya kaget liat anak itu jalan sendirian padahal bisa di bilang daerah situ cukup gelap plus dekat kuburan lagi,.iihhhh serem. Tapi anak itu memang rajin ke mesjid gitu tapi cuma sendiri. Saya langsung berpikir mungkin anak itu ngikutin gerakkan saya karena dia mau belajar gerakan shalat dan gak tahu cara menyampaikannya ke saya tapi saya malah marah pas anak itu ngikutin saya , eehhmmmmm saya langsung merasa ngesel sempat merasa marah ke anak itu. Bisa dibilang juga anak itu hebat deh, dia mau belajar agama di usianya yang masih sangat muda padahal banyak juga anak-anak seusianya yang lebih memilih bermain daripada shalat. Dan jiwanya itu betul-betul seorang muslimah yang luar bisa di usianya yang masih muda dan seharusnya yang lebih tua belajar dari sikap anak ini. Jiwa malaikat yang sudah ada di dirinya itu sungguhlah Kuasa Tuhan. Dan tidak ada salahnya juga kalau saya menyebut anak ini sebagai seorang malaikat. Saya pun berharap semoga anak itu tetap memiliki jiwa malaikat itu sampai dewasa kelak,.Amin.

Hari ini benar-benar bermakna buat saya, ketiga jiwa-jiwa malaikat yang saya temui di rumah Tuhan itu sungguh luar biasa. Tuhan punya caranya sendiri terhadap umatNya, tiga malaikat yang lain generasi itu menunjukkan betapa kuasaNya Dia dan betapa besar perlindunganNya terhadap hambaNya yang taat menjalankan kebenaran yang diperintahkanNya. Mereka memberikan saya pelajaran tanpa penjelasan yang konkrit, tanpa pemahaman lisan maupun tanpa teori. Mereka menyampaikan dengan apa yang mereka perbuat dengan hati dan keimanan. Iman yang mereka miliki mampu menepis batas-batas logika pemahaman konseptual manusia. Mereka bukan sarjana dengan pendidikan tinggi, mereka bukan cendikiawan ataupun pengamat dan profesor, tapi hari ini mereka guru berharga buat saya dan tidak akan saya temui untuk dua kalinya di dunia ini. Saya merasa beruntung bertemu dengan mereka dan memdapatkan pelajaran yang berharga tentang keimanan dan tidak hanya berfokus pada keimanan melainkan pelajaran kehidupan secara univesal. Mreka guru saya tapi mereka tidak pernah memberikan saya pengajaran secara langsung ataupun mengajar saya tapi saya belajar dari setiap kehidupan mereka.

Ku temukan guru di rumah Tuhan malam itu. Kujuluki tiga malaikat itu guru kehidupan buat saya. Terima kasih Tuhan kau pertemukanku dengan guru kehidupan yang mungkin hanya akan saya dapatkkan sekali seumur hidup. Dan di rumahMu ku temukan guru itu dan ku harap mampu membuatku makin dekat padaMu,.amien,.
Dan kesimpulannya sebenarnya setiap harinya kita mendapatkan pelajaran dari Tuhan, tinggal bagaimana kita dapat memahami setiap bahasa yang Tuhan kirimkan untuk menaikkan tingkat kehidupan kita melalui orang lain Tuhan memberikan jalan yang berbeda untuk setiap umatNya. Dan begitulah caraNya menyayangi kita. Karena kita memang diwajibkan untuk terus belajar dan belajar yang tidak hanya terbatas di bangku sekolah saja





Sabtu, 18 Juni 2011

Truth,Cry, and Lie (Sebatas Coretan Untuk Teman-Temanku(Siasat))

Hidup memang indah, itulah defenisi tentang sudut pandang hidup positif dan juga bentuk kesyukuran akan anugrah tiap detik udara yang kita hirup ya tepatnya udara gratis ^_^. Banyak seniman ataupun budayawan yang melukiskan bahwa hidup itu bagai pelangi dan penuh warna yang berbeda. Ya memang benar bahkan sangat benar karena kalau gak penuh warna  pasti kita akan mengalami kejenuhan.
Saat mereasa jenuh di rumah saya mencoba membuka album foto yang segudang bersama teman-teman saya yang tersimpan di laptop, eemmmmmm ya maklumlah hampir dibilang anak XI IPA 1 yang singkatannya (SIASAT) itu gifo abis deh 6_6 ahahhahha tapi saya juga sih ikutan gifo *_*. Jangan salah untuk liat foto-foto itu butuh waktu berjam-jam(lebay) tapi walau pun lama gak bosan juga,.. dan pada akhirnya saya ditegur ma ibu saya kalau ketawa-ketawa sendiri gara-gara liat gaya nak siasat yang kocak  abis.
Pas saya liat foto di atas foto yang diambil di depan gedung bahasa Inggris waktu istirahat itu gokil deh. Saya masih ingat dengan jelas, waktu itu pelajaran bahasa Inggris sedang kosong jadi seperti biasa kalau teman saya yang bernama Rabiah atau sering dijuluki ibu supermaket alias lagi super maket berjalan karena dia satu-satunya orang di kelas yang punya supermaket jadi kalau anak-anak mau pesan sesuatu dia bawain ke sekolah(heheeheheh peace biah) dan waktu itu biah panggilan akrabnya bawa kamera ke sekolah jadi anak-anak pada gifoan gitu,..wah seru plus capek saat itu lari sana-sini cuma buat foto aja.
Tapi yang menginspirasi saya saat liat foto yang diatas itu backroundnya yang berlatarkan ruang bahasa Inggris. Saya ingat pernah ada pelajaran bahasa Inggris yang sangat fun yaitu menyanyikan lagu bahasa Inggris yang dibagikan untuk setiap kelompoknya, dan kelompok saya kebagian lagu musisi asal Jogya yaitu Letto dengan judul yang luar biasa "Truth, Cry, And Lie". Pada awalnya saya dan teman-teman saya tidak terlalu suka dengan lagu itu karena lagu itu baru buat kami. Walaupun saya salah satu orang yang suka ma lagu-lagunya Letto tapi untuk kali ini  agak susah untuk menyanyikan lagu tersebut. dan kami diberi waktu selama satu minggu untuk menguasai lagu itu, mmmmm,.. tapi setidaknya menghafal lagu lebih mudah ketimbang kita disuruh menghafal kosakata.,ahhahha ("_"). Wah langsung seketika seminggu full kalau saya ada waktu luang saya dengerin lagu itu sambil mencoba menyanyikannya,mmmm ya suaraku gak bagus-bagus amat sih ^_6.
Tiba saatnya setelah seminggu berlalu, akhirnya waktu tes untuk lagu itupun tiba dan Alhamdullilah saya dan teman-teman saya (lida,fia,ica,elvi,mia,ima,ina,ummi,rida n ana) mampu menghafal lagu yang lriliknya panjang luar biasa. Begini potongan liriknya:
there's a truth behind a cry
and there' a cry behind a lie
on every thought that come out wrong
just learn from it and please stay srong
on every grudge and every fight
I miss you all day and night
it's not easy to understand
but you must hold on you stand
Sperti itulah bagian reff nya. Selintas waktu itu lagu ini tak begitu bermakna tapi setelah dapat tugas kedua untuk ulangan semester yaitu harus memahami arti lagu itu saya baru tahu kalau lagu ini luar biasa.
Ya lagu itu menjelaskan "bahwa dikehidupan ini kadang kita kebenaran, menangis, dan merasa di bohongi, dan apapun itulah bagian dari hidup yang tidak dapat kita hindari dari hidup. Memang pada awalnya kita akan merasa down dengan masalah yang ada namun dengan berlalunya waktu semua akan pulih kekeadaan semula. Sepertinya halnya bertengkar dengan seseorang dan akan ada suatu hari nanti dimana kita akan merindukan bertengkar dengan orang itu kembali. Dan waktu juga akan mebuktikan bahwa tangisan kita hari ini suatu saat akan kita syukuri dan sebesar apapun masalah kita harus tetap lebih tega dari masalah itu" Saya terperangah sejenak dengan arti yang saya dapatkkan dari lagu itu dengan cara mengartikan tiap bait lagu tersebut, dan ya it's give me a new spirit.
Ketika saya memahami lagu itu dan melihat foto diatas yang merupakan wajah teman-teman saya yang hampir 1-2 tahun mengisi hari-hari saya. Jangan salah hubungan saya dengan mereka juga tidak berjalan sebaik yang dipikirkan tanpa masalah. Bahkan kami satu kelas sering berdebat tentang hal kecil dan akhirnya menjadi besar, kami sering saling mencaci satu sama lain, menghina bahkan tidak mampu menerima kekurangan yang lain, ataupun rasa iri apabila yang lainnya  bahagia. Tapi terlepas dari itu kami pun pernah tertawa bareng, ngumpul bareng, makan, bercerita, berbagi pengalaman, dan bersenang-senang bareng. Ya itulah hidup walaupun kami tidak begitu cocok dalam banyak hal tapi kami tetap terangkum dalam satu ikatan yaitu siswa XI IPA 1 (SIASAT) yang sadar gak sadar mampu menyatukan perbedaan itu. Tentu saya tidak tahu sampai kapan kami masih bisa tetap menjadi teman sekelas, tapi yang bisa saya jamin bahwa kenangan bersama itu akan dibawa mati.,karena saya pribadi pun tidak dapat menjamin kalau suatu saat saya akan menemukan teman-teman secerewet, segifo,sepemalu,seheboh,sesabar,senarsis,sepemarah, dan banyak lagi sifat unik mereka seperti yang saya dapatkan hari ini yang tidak bisa saya lupakan. Dan memang hidup tidak akan pernah lepas dari "TRUTH, CRY, AND LIE" karena dengan itu hidup akan lebih berwarna. Selain pemaknaan tentang trurh,cry, and lie saya juga  memahami arti bersyukur, bersyukur memliki dan mengenal mereka tanpa harus menuntut mereka jadi apa yang kita inginkan, bersyukur bahwa Tuhan memberikan teman-teman seperti mereka yang pada awalnya sebelum mengenal mereka lebih dalam saya tidak yakin bahwa saya dapat bersosialisasi dengan mereka. Dan tentu sekarang saya tahu bahwa Tuhan punya maksud yang indah dari apa yang terjadi dikehidupan ini.
Kalau tanpa "TRUTH, CRY, AND LIE" ,dan "KESYUKURAN" maka kami tidak akan tersenyum selega foto yang diatas dan dibawa ini. Terima kasih untuk semuanya teman-teman,......








Get the spirit From God


TANPA KAKI TANPA SAYAP
Ku telusuri jejak jiwa ini
Patah lelah raga ini
Mendekap malam mengusir senja
Dalam perjalanan  tanpa  tujuan
Kutepis tiap sudut jalan tertatih
Dalam ketidak mampuan  menerjang samudera

Bunuh saja jiwa pilu ini
Biar  raganya mampu bertahan dalam hempasan badai
Karena kaki ini pun tak mampu lagi di langkahkan
Karena tangan ini pun tak sanggup lagi menggenggam

Lepaskan saja napas ini
Biar  hatinya  mampu terbang menepis langit-langit khatulistiwa
Sebab  pundak  ini  sudah  letih tuk bertahan
Sebab hasrat ini terlalu berat tuk di pertahankan

Aku ingin lari mengejar senja terakhirku
Aku  ingin melompat menggapi mentari hidupku
Tanpa kaki,. Tanpa sayap

Tak ku pedulikan lagi tangisan dedaunan di atas  pohon
Tak kupedulikan lagi tertawaan  merpati di awan
Karena aku memang ,.
Tanpa kaki,.tanpa sayap


DI BAWAH KOLONG LANGIT  DI ATAS SEJADAH DOA

Lantunan suling tak bersuara
Kicauan burung pun tak terdengar
Semuanya telah membelah fatamorgana
Dalam dekapan air  mata

Masih ku berharap hujan  kan tiba di antara terik mentari
Masih ku menanti tetesan embun pagi di pelupuk senja
Masih ku berharap salju di musim panas
Masih ku menanti bunga bermekaran di musim dingin

Tidakkah doa memang bemunaja kepada-Nya
Sebab tak ada doa yang  Dia sia-siakan
Walau memang qada’ dan qadar itu ada
Tapi jiwa tetap menyandarkan tumpuan  hanya kepadaNya

Ku coba menyakinkan jiwa ini walau bukan saat ini
Karena mungkin saja, esok, lusa atapun dimasa yang akan datang
Dimana hujan kan tiba diantara terik mentari
Dimana embun pagi menetes di pelupuk senja
Ketika salju hadir di musim panas
Ketika bunga-bunga bernekaran di musim dingin
Karena keyakinanku terhadapNya sungguhlah tidak terpatri lagi

Dibwah kolong langit di atas sejadah doa
Kutumpukkan segala pengharapan jiwa
Mengaharap keridhoan yang Kuasa
Kan hidup yang ku damba

Ku tahu Kau takkan biarkanku sendiri
Dari terjangan hidup yang tak terelakkan
Ku tahu Kau takkan biarkanku berpaling
Dari segala keyakinan atas KuasaMu

Di bawah kolong langit di atas sejadah doa
Ku tata segala pengrapan tuk berharap jadi kenyataan
Entah hari ini, esok atau lusa
Biarlah doa ini mengambang di atmosfer
Dan di saat  ku menengadah di langit
Ku tahu doaku masih ada di sana walaupun belum menjadi  nyata
Tapi setidaknya ku pernah berharap sedemikian rupa

Jiwa dan hatiku memang bukan karang
Ia hanya segupal daging yang lemah
Dan kan merasa hancur saat pengharapannya belum terjamah olehNya
Mata pun tak mampu  menahan aliran air mata
Karena ia tahu jiwa dan hatinya sedang kecewa dan terluka

Namun tetap ku berada di jalur ini
Di bawah kolong langit di atas sejadah doa
Bertumpuh bersama harapan
Dan menanti harapan yang masih dalam bayangan









Jumat, 17 Juni 2011

SEUNTAI PUISI UNTUK PRESIDEN

Alkisah seorang anak berumur 10 tahun bernama Wahyu yang kesehariannya bekerja sebagai penjual koran smenjak meniggalkan sekolah dasar karena alasan ekonomi.  Dia tinggal di sebuah rumah gardus di pinngiran kemegahan gedung-gedung ibukota negara Indonesia tepatnya Jakatra. Dalam kesehariannya dia menjual koran ditengah gerumunan mobil yang terjebak macet maupun lmpu merah. Ya,.. macet merupakan momen yang sangat tepat bagi kaki kecilnya berlari diantara mobil-mobil mewah yang berjajar untuk menawrkan kkoran jualannya dan juga mencari sepeser rupiah untuk membantu himpitan ekonomi keluarganya. Tentu itu ia lakukan untuk urusan perut dan kebutuhan ekonomi dikota besar seperti Jakarta.

Suatu siang saat ia tengah mdan benjajakan koran jualannya, ia melihat mobil presiden Indonesia melintas dengan pengawalan yang sangat ketat. Mobil berplat RI 1 membuatnya terkagum-kagum dengan luar biasa dan berbisik "wah bapak presiden,...pasti punya segalanya". Setelah terpaku menyaksikan lintasan mobil presiden dan pengawalnya, dia beranjak dari tempatnya berdiri seraya menuju ke ibu-ibu yang memanggilnga dari dalam mobil untuk membeli koran. Setelah merasa lelah dia mencoba bersantai di samping halte bus dan menghitung penghasilannya siang itu.  Gulungan uang seribu yang lecek mulai dia luruskan satu per satu dengan penuh semangat "mmmmm,...penghasilan hari ini cukuplah untuk beli obat dan susu buat ibu dan adikku",.Katanya bergumam sambil tersenyum tipis.Ketika berjalan menuju warung untuk membeli air mineral, dia melihat kerumunan orang yang berteriak-teriak membawa spanduk yang lumayan besar. Perasaan penasaran membawanya mendekat ke kerumunan orang tersebut. Dan ternyata kerumunan orang tersebut adalah mahasiswa yang sedang demo menuntut turunnya harga BBM. Wahyu berpikir "karena BBM  naik aja mahasiswa berdermo, terus soal keluargaku yang hampir hanya sekali makan dalam sehari, ibuku yang sakit, ayahku yang di PHK dan adikku yang harus memakai sandal ke sekolah karena sepatunya rusak kayaknya tidak pernah berdemo,lalu masalahku yang putus sekolah jugagak ngebuat aku untuk demo, kenapa masalah BBM mahasiswa demo yach?"  sambil mendekati kerumunan mahasiswa itu Wahyu terus berpikir. Karenadia terlanjur penasaran, dia terus mengikuti pendemo tersebut sampai ke bundaran HI. Dia mencoba memerhatikan secara saksama cara mahasiswa tersebut berdemo. "Saya gak mungkin ikutan mendemokan nasib saya ke presiden, walah yang dewasa aja kayak mahasiswa gak di dengar apalagi saya yang masih kecil, lagipula kalau saya pergi demo kapan saya jualan koran untuk keluarga saya,.mmm" gumamnya sambil menjauh dari kerumunan pendemo tersebut dan kembali berjualan.

Keesokan harinya, Wahyu menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Berhubung lagi sepi dia mencoba membuka halaman koran yang dijualnya. Selintas dia menemukan kolom yang berisikan puisi tentang keluh kesah terhadap harga BBM yang mahal disurat kabar yang dibacanya. Ya,.. dia menemukan apa yang dia cari. Setelah membaca koran dia mendapatkan inspirasi yang luar biasa dan melanjutkan pekerjaannya. Hari ini kooran yang dijual Wahyu cepat habis terjual jadi dia bisa langsung ppulang ke rumahnya untuk beristirahat. Sesampainya di rumah,  dia langsung mengambil secarik kertas dan pulpen lalu mulai menulis,...dan tahukah Anda apa yang Wahyu tulis????,.ya benar, Wahyu mencoba menulis sebuah puisi untuk presiden. Dengan tangan gemetar yang masih lelah dia mencoba mmenulis  dan ditemani dengan keringat yang bercucuran di wajahnya  ditambah lagi dalam keadaan lapar, namun semangat untuk menuliskan puisi untuk bapak presiden begitu besar. Semangatnya mampu membuatt tangannya bberlarian diatas kertas buram, sesekali dia menghapus keringatnya dan tersenyum tipis sembari kembali menulis. Entah spirit apa yang mengalir di dalam jiwanya sehingga siang itu dia begitu bersemangat.  Seperti ini salah satu isi puisi yang dibuatnya 

PUISI UNTUK BAPAKKU BAPAK PRESIDEN
Bapak,..
Kemarin kulihat mobilmu melaju
Dengan penjagaan yang super ketat dari pengawalmu
Apa bapak tahu saat bapak melintas
Hampir semua masyarakat memandang kearah bapak
Aku berdiri tegak menunggu bapak membuka kaca mobil
Untuk sekedar meberikann lambaian tangan

Namun bapak tak kunjung membuka kaca mobil hingga bapak berlalu
Tapi ku tahu bukannya bapak tak ingin
Tapi bapak pasti sedang sibuk

Bapak presiden,..
Kulihat pula mahasiswa mendemomu dengan luar biasa
Ada cacian maupun celaan yang terlontar untukmu
Tapi aku tidak peduli karena kaut tetap bapakkku bapak presidenku

Bapak,..
Sekarang banyak yang protes tentang kenaikan harga BBM
Seolah semua karenamu bapak
Terkhusus dari jiwaku
Ku tulis surat ini untukmu

Apakah bapak tahu??
Sekarang saya berumur 10 tahun dan saya sudah putus sekolah karena tak punya uang
Apakah bapak pun tahu??
Ibuku menderita kanker paru-paru tapi aku tak punya uang untuk mengobatinya
Apakah bapak iingin tahu??
Bahwa ayahku terkena PHK
Apakah bapak juga ingin tahu??
Kalau adikku harus memakai sandal kesekolah karena aku tak bisa membelikannya sepatu

Ku harap bapak bisa tahu
Ku harap bapak ingin tahu

Bapak,..
Aku berjualan koran untuk keluargaku
Dan aku tak ingin mengeluh bapak
Selagi aku masih bisa bernapas
Selagi aku msih bisa bejalan
Aku akan selalu menjajakan koran untuk sesuap nasi
Bagi keluargaku

Bapak,.
Ku harap pula
Suatu saat bapak akan membuka kaca mobil
Untuk sekedar melambaikan tangan dan meraih harapan juutaan warga Indonesia

Ku harap pula
Suatu saat bapak akan turun dari mobil
Dan beranjak berjalan di perkampunganku
Melihhat rumah kardus ditengah kemegahan kota Jakarta

Bapak,..
Bapak  harus tahu
Ribuan bahkan jutaan rakyat mendukungmu
Namun ada juga ribuan bahkan jutaan  rakyat membutuhkan kepedulianmu
Untuk bapak presidenku
Rasanya tak perlu aku berdemo di jalan
Cukup seutai puisi ku tuliskan
Ku harap kau kan kuat menjalankan tugasmu

Dan seuntai doa ku panjatkan
Untukmu bapak presidenku
Semoga kau tetap dalam lindungan yang Kuasa
Sehingga kau dapat menyejahtraan rakyat Indonesia
Amin,.ya Rabbal Alamin,.

Setelah menulis puisi tersebut, Wahyu merasa lega dan mempunyai semangat baru dan setiap hari dia menulis puisi untuk presiden. Namun, dia bingung kemanadia harus mengirim puisi-puisinya itu. Dia bingung karena dia tidak tahu alamat yang harus dikiriminya jadi setiap hari sambil berjualan koran, Wahyu menunggu mobil presiden melintas dan berharap mobil itu akan berhenti. Berminggu-minggu dan berbulan-bulan Wahyu menulis puisi untuk presiden . Wahyu menulis puis namun tak kunjung sampai ketangan presiden. Hingga suatu saat Wahyu menangkap burung merpati dan mengikat puisi-puisinya ke merpati itu dan tetap dia pun tak tahu alamat yang harus dibisikkannya kepada merpati itu, jadi dia memutuskan membiskkan satu kalimat ke merpati itu "ANTARKAN PUISI-PUISIKU INI KEPADA BAPAK PRESIDEN INDONESIA DIMNAPUN BELIAU BERADA".

 Sungguh ironi memang seorang rakyat kecil yang ingin berbicara dengan presidennya melalui puisi pun sangatlah sulit apalagi untuk bertemu dengan presiden dan faktanya lagi bahwa bisa dikatakan hampir sebagian besar rakyat Indonesia tidak tahu alamat presidennya sendiri padahal sudah hampir 2 periode menjabat. Tapi seangat Wahyu yang selalu berpikir positif, tidak mudah putus asa, dan optimis dalam hidup setidaknya patut kita contoh. Wahyu tidak pernah berpikir  untuk puisinya  dibaca atau bahkan ditanggapi oleh presiden tapi setidaknya dia mencoba berusaha mengirimkan puisi tersebut. Dan mungkin di luar sana ada banyak yang mempunyai masalah kehidupan ekonomi seperti Wahyu, dan sudah seharusnya semua pihak membuka mataakan itu semua karena bangsa ini bukan tanggungjawab perorangan. Sudah saatnya kita bergerak dan mencoba melihat sekeliling kita karena mereka tidaklah sendiri sebab kita punya dua tangan untuk diulurkan ke mereka supaya mereka mampu bngkit bersama kita.





Kamis, 16 Juni 2011

kata " IT'S ABOUT LUCKY"

Akhirnya lega melawati masa-masa UAS, hampir semua teman-teman di sekolah merasa lega dengan berakhirnya masa ulangan ini. Lega sekaligus was-was akan hasil yang akan diperoleh nantinya. Kalau kita bicara soal hasil, seperti biasa tak ada respon selain kata "liat aja nanti'. Penat memang dalam menghapi ujian ditambah lagi perasaan bahwa apakah kita mampu mengerjakan soal dengan baik dan memperoleh hasil yang memuaskan.

Masih hangat dimemoriku, seminggu yang lalu sangat hari pertama ujian khususnya kelas XI SMAN 1 Pitumpanua dapat giliran masuk siang. Berhubung anak kelas X ulangan, jadi anak kelas XI yang sudah datang di arahkan ke depan labalatorium IPA supaya tidak mengganggu kelas X yang sedang ulangan. Dan seperti biasanya kalau kami ngumpul pasti ujung-ujungnya ngerumpi "_". Biasalah anak sekolah ada aja yang dibahas walaupun udah mau ulangan bukannya belajar malah ngerumpi gitu. Di perbincangan saya dan teman sekelas saya bergerombol membahas kisi-kisi untuk ulangan matematika dan pada saat itu di depan lab juga banyak anak IPA lainnya.

Tiba-tiba ada seorang teman yang bicaranya keras sekali inisialnya A,..
" saya memang bukan orang cerdas cez, jadi saya tidak bisa ngalahin kalian kalau soal kecerdasan, saya tau kalian lebih cerdas dari saya"tandasnya dengan nada bercanda. lalu salah satu teman saya menjawab"lalu kamu bisa apa dong,.??heheheeh".
lalu dengan entangnya dia si A menjawab "gini, orang miskinkan kalah sama orang kaya, orang bodoh kalah sama orang pintar, dan orang kaya ma orang pintar kalah sama orang beruntung, dan saya bukan orang kaya dan orang pintar tapi saya orang beruntung yang bisa nyalahin kalian,hahahahahh",..dan dengan cepatnya hampir semua siswa di depan lab tertawa, entah tertawa karena lucu atau karena yang dikatakan si A memang benar.dan saya juga satu diantara banyak orang yang tertawa mendengar perkataan itu ya dengan alasan memang perkataan si A ada benarnya juga sih sekaligus gaya bicara si A yang lucu. Berselang kemudian bel pun berbunyi dan kami semua berhamburan keruangan masing-masing.
Malamnya,  salah melihat salah satu tanyangan tv kesukaan attaku(panggilan untuk ibu dari marga bugis), seprti biasa sebuah acara reality show yang berjudul "jika aku menjadi", ummm rencananya sih mau konsen belajar tapi akhirnya tegoda juga untuk ikut nonton sambil nemanin attaku yang lagi nonton sendiri. Reality show yang mengangkat tentang susahnya kehidupan masyarakat yang tidak berkecukupan dalam mempertahankan hidup. Keluarga itu memiliki seorang anak yang berusia 18 tahun, dan dia sudah lulus SMAN dan akhirnya menganggur karena tidak memiliki biaya yang cukup untuk melanjutkan sekolah padahal dia memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, terbukti dia selalu mendapatkan perinngkat satu saat masih duduk dibangku SMA. Tiba-tiba saya teringat dengan perkataan teman  saya tentang keberuntungan tadi siang. Memang perkataan si A ada benarnya, bahwa semuanya juga kembali kepada keberuntungan.

Berhubung acara itu sudah selesai, saya mengotak-atik channel televisi dan saya menemukan  salah satu program talk show yang membahas tentang pengusaha yang sukses tapi hanya menempuh pendidikan sampai jenjang SD saja.Wah otakku langsung menyimpulkan bahwa itu karena pengusaha itu beruntung dan mulai berpikir tentang apa itu keberuntungan. Tapi pas waktu saya akan mengambil remote tv dengan maksud memindahkan ke  channel lain, sang presenter acara talk show tersebut melontarkan pertanyaan kepada pengusaha itu "jadi, pada dasarnya Anda hanya beruntung, dengan coba menjadi pengusaha dan akhirnya sukses??". Wah saya langsung mengurungkan niatt untuk memindahkan channel tersebut, rasa penasaran mulai memasuki urat saraf d saya dan saya berharap pengusaha itu akan menjawab "ya" dan apabila dia menjawab ya itu berarti memang kebruntungan itu kunci kehidupan. Saya menunggu jawaban pengusah itu yang awalanya hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. "Ya" kata pengusaha itu, saya langsung tersenyum tipis dan berpikir kalau jawabannya mudah ditebak. Tapi tiba-tiba pengusaha itu melanjutkan perkataannya "memang karena keberuntungan tapi keberuntungan hanya berpengaruh 0.00001% dari keberhasilan saya, sampai ketitik ini tidaklah mudah dan tidak cukup hanya berbekal keberuntungan saja, semuanya butuh kerja keras dan perusahaan yang saya bangun tidaklah dengan cara ongkang-ongkang kaki di rumah dan menunggu keberuntungan datang karena keberuntungan harus dijemput sebab semua orang terlahir dengan keberuntungan besar". Mmmm,..berhubung saya orang yang lumayan keras kepala jadi saya tidak sertamerta menerima jawaban tersebut, lalu dibenakku terlintas "lalu bagaimana dengan anak yang putus sekolah tadi karena kemiskinan bukan  karena tidak berusaha??", dan ternyata respon presenter tv itu sama seperti saya dan menanyakan hal yang sama dengan yang saya pikirkan. Dan super jawaban dari pengusaha itu " itu tergantung sudut pandang kita melihat keberuntungan itu, sebab keberuntungan tidak hanya disaat kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan bukan berarti kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan lalu kita menggolongkan diri kita tidak beruntung, karena mungkin bisa jadi kita beruntung gagal disuatu hal karena kita disiapkan untuk hal yang lebih besar"tandas pengusaha muda itu. Paradigma berpikirku berubah seketika dan saya rasa pengusaha muda itu juga cocok untuk jadi seorang motivator....,hhehheheheh.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WITA dan saya belum juga  belajar untuk ulangan besok, jadi kuputuskan untuk menyudahi perjalanan analarku tentang apa itu keberuntungan. Tapi sebelum beranjak dari depan tv ku simpulkan bahwa " Ternyata apa yang akan terjadi di hidup ini memang sudah di tentukan oleh Tuhan dan apa yang terjadi besok ditentukan oleh seberapa besar usaha yang kita lakukan hari ini" dan soal keberuntungan "memang ada juga orang yang mendapatkan sesuatu karena keberuntungan, tapi yang lebih berharga adalah keberuntungan yang kita peroleh dari usaha dan kerja keras, karena setiap orang sesungguhnya sudah terlahir dengan keberuntungan yang besar dan tentunya dibutuhkan orang yang memiliki usaha dan kerja keras yang besar pula untuk menjemput keberuntungan itu". 
Petualangan tentang keberuntungan yang hanya berawal dari perkataan sepele seorang teman ternyata begitu mengasikkan, tapi tentu ada banyak lagi hal di luar sana yang perlu pemahaman bijak seprti halnya keberuntungan yang saya pelajari hari ini. Dan hari ini memberikan motivasi baru buat saya menghadapi hari esok, khususnya hari-hari ulangan selama sepekan,.ehehehheeheheh