siapa penemu komputer

Minggu, 20 Maret 2011

Senyum Bekunya di tengah bencana

Hati siapa yang tidak terusik mendengar sebuah pemberitaan tentang stunami Jepang, kejadian yang memporak-porandakan negeri sakura itu.Namun di antara semua pemberitaan yang mengusik nurani saya adalah pemberitaan di salah satu televisi swasta tentang 10 orang anak TK yang menjadi korban stunami di daerah Sendai Jepang.Pada saat stunami terjadi, anak-anak tersebut sedang berada di sekolah mengikuti kegiatan belajar seperti biasanya.Singkat cerita, setelah stunami terjadi mereka diantar pulang oleh gurunya dan setiba di perkampungan tempat tinggal mereka, yang mereka temui hanyalah bongkahan reruntuhan rumah mereka yang rata dengan tanah.Namun yang paling menyedihkan bahwa anak-anak itu hanya terpaku menatap rumah mereka rata dengan tanah.Kehilangan rumah pastilah sangat berat buat mereka tapi yang paling ironi bahwa mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal, mereka juga kehilangan orang tua dan sanak saudara mereka.Yang menjadi pertanyaan, mampukah anak-anak seusia mereka menerima keadaan bahwa terakhir kali mereka melihat orang tuanya ketika meninggalkan rumah dan tak pernah pula terpikirkan oleh mereka bahwa tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah adalah terakhir kalinya mereka bertemu ibu dan ayah mereka.Akan tetapi anak-anak itu masih dapat tersenyum dan dengan entengnya  seorang anak berkata kepada guru yang mengantarnya,"Bu,.pasti ayahku masih di tempat kerjanya dan ibuku sudah ke pabrik, sebab tadi pagi ibuku masih mengantarku sampai ke bis dan ibuku berjanji akan mengajakku ke pabrik kalau aku tidak nakal di sekolah, tapi sekarang ibu sudah ke pabrik berarti ibu tahu tadi aku nakal di sekolah, bu kalau ketemu ibuku nanti bilang kalau aku tidak nakal lagi di sekolah ya bu, biasanya ibuku pulang jam 3 sore jadi bu guru harus tunggu di sini sampai ibuku pulang.".Guru mereka hanya bisa mengangguk dan tertunduk menahan air matanya mendengar perkataan muridnya tersebut.Padahal orang tuanya sedang berada di rumah saat peristiwa itu terjadi dan di nyatakan hilang oleh pihak kepolisian Jepang.Berlahan anak-anak itu turun dari mobil dan mencoba memilah mainannya yang masih tersisa di bawah reruntuhan bangunan, bahkan mereka masih dapat berlari tanpa rasa sedih sedikit pun padahal orang-orang di sekelilingnya sangat kwatir sebab kemungkinan orang tua mereka selamat sangat kecil dan kepolisian pun coba membawa mereka ke tempat pengunsian namun anak-anak itu tetap bersikeras bertahan di daerah rumahnya sebab mereka beralasan untuk menunggu ayah dan ibunya pulang sehingga butuh waktu 2 jam untuk membujuk mereka ke tempat pengunsian sehingga pada akhirnya gurunya pun harus berbohong kepada mereka.."Ya,,..namanya juga anak-anak, mereka masih terlalu polos untuk memahami semuanya"jawab guru mereka saat wawancara dengan salah satu wartawan Indonesia.Betapa wajah polos mereka masih  penuh dengan pilar-pilar harapan dapat bertemu ibu dan ayah mereka serta dapat berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing.Tak pernah terbayangkan oleh mereka bahwa tadi pagi adalah terakhir kalinya bertemu keluarga mereka.Namun sekitar pukul 20.30 waktu Jepang, kepolisian mengumumkan bahwa korban yang di nyatakan hilang tadi pagi telah di temukan dalam kondisi meninggal.Sungguh tangis memecah tempat pengunsian.
Anak-anak itu masih terlalu kecil untuk menerima keadaan ini, keadaan yang masih seperti mimpi buat mereka dimana stunami telah merenggut senyum ibu mereka dan tawa ayah mereka yang masih hangat dalam memori mereka.Tentu tidak mudah bagi mereka menerima keadaan yang seperti ini.Tapi siap atau tidak kehilangan ibu dan ayah mereka merupakan pil pahit yang harus mereka telan mentah-mentah dalam usia yang terlalu dini.Bisakah kita membayangkan perasaan anak-anak tersebut?,..Siapa yang harus mereka salahkan?. Dan sanggupkah kita menghadapinya jika kita ada pada posisi anak-anak itu? 
Tidak dapat di pungkuri saya pribadi pun tidak sekuat anak-anak itu yang harus kehilangan orang tua mereka dan menjadi sebatang kara hanya dengan hitungan jam saja.Kalau kita jadi mereka kita tidak akan sanggup menerima hal tersebut, kehilangan orang-orang yang kita sayangi dengan seketika dan hidup sebatang kara.Tidak ada seorang pun di dunia ini yang siap akan hal tersebut.Mereka menjadi korban dari apa yang tidak mereka perbuat.Terlepas dari musibah ini merupakan bencana alam, kerusakan alam menjadi faktor utama terjadinya becana ini.Haruskah mereka dan bahkan kemungkinan kita menjadi korban pengembangan teknologi yang tidak bertanggujawab?Saya bahkan tidak sanggup membayangkan jika yang terjadi pada anak-anak itu terjadi kepada saya.Seharusnya para perusak lingkungan itu sadar melihat tangisan anak-anak itu kehilangan orangtuanya dan memikirkan perasaan anak-anak itu. 
Seperti yang kita yakini" Tuhan tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuannya", dengan begitu betapa kuatnya saudara-saudara kita di Jepang menghadapi cobaan ini.Begitupun hal ini menjadi pelajaran buat kita semua.Seharusnya kita masih dapat bersyukur sebab, saat kita bangun pagi orang-orang yang kita sayangi masih ada mendukung kita terutama ibu kita.Betapa beruntungnya kita yang masih dapa melihat senyum beliau dan di saat kita terluka beliau masing ada di samping kita bila dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Jepang.Bahkan diantara kita pun masih ada yang sempat memaki orang tuanyaSeperti pepatah, sesuatu akan terasa berharga kalau kita telah kehilangannya.Sebab kita pun tidak pernah tahu kapan kita akan kehilangan beliau dan semua masih rahasia Tuhan.Maka dari itu memang sudah seharusnya kita menghargai apa yang kita miliki sekarang terutama ibu kita.Selain itu, sudah seharusnya pula kita introspeksi diri apakah perlakuan kita rehadap alam sudah baik??!!,....
Semoga saudara-saudara kita yang ada di Jepang diberi ketabahan dan kekuatan menghadapi cobain ini ya Rab,..
AMIENN,..

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kamu bagi alamat blogmu kepada teman2mu biar mereka bisa membaca tulisanmu.