siapa penemu komputer

Minggu, 19 Juni 2011

BERTEMU 3 MALAIKAT DI RUMAH TUHAN



Beberapa waktu lalu, saya dan  kakak saya pergi melaksanakan shalat isya di salah satu mesjid yang ada di wilayah tempat tinggal saya. Ya biasanya untuk shalat magrib dan isya, kami sering melakukannya di mesjid. Seperti biasa jamaahnya gak terlalu banyak sih tapi ibadahnya sangat kusyuk hal itu yang membuat saya cukup nyaman. Walaupun sesekali ada anak kecil yang bikin gaduh saat shalat, tapi gak apa-apalah kan mereka masih anak-anak.

Untuk beberapa kesempatan saya dan kakak saya berangkatnya setelah adzan, mmmmm berhubung saya juga orangnya lelet jadi kakak saya biasanya marah gitu,.heheheehehhe udah kebiasan sih. Sebelum saya sering ikut kakak saya ke mesjid, dia sering cerita kalau ada anak NTT yang cara adzannya bagus banget. Mmmmm ada rasa penasaran sih seberapa bagusnya, dan pas sore ini sebelum berangkat ke mesjid saya dengar suara adzannya wah Subhanallah ternyata bagusnya gak kalah dengan adzan-adzan di TV. Ya maklumlah karena ini hal baru, soalnya yang biasa adzan itu pak imam karena bisa di bilang juga jarang anak-anak yang adzan di mesjid sih selain pak imam atau pak ustadz yang emang ngurus mesjid gitu. dan saya udah liat orangnya yang adzan wah anak itu adzannya hebat. Tapi saya gak kenal ama anak itu, mungkin orang baru di lingkungan rumah saya, tapi syukurlah orang baru yang  membawa perubahan yang positif. Dan hebatnya lagi dia kalau ke mesjid itu jalan kaki dan rumahnya lebih jauh dari rumah saya, dan walaupun rumahnya lebih jauh tapi dia datangnya paling cepat padahal saya ma kakak saya aja yang naik motor itu datangnya kalau habis dia adzan. Wah jadi malu ma dia hehehhheheheee. Ada satu hal yang saya pelajari dari dia, mungkin yang dia lakukan, itulah yang dikatakan iman. Iman yang menjalankan kakinya menuju ke mesijd walaupun jaraknya lumayan jauh dan dengan iman pula dia adzan menggunakan hati dan penuh penghayatan sehingga kami yang dengarpun merasa damai dan satu lagi dia adzan tanpa rasa malu sedikit pun padahal bisa dibilang di situ gak ada yang kenal ma dia. Iman memang luar biasa yang mampu medekatkan Tuhan dan hambaNya. Maka gak salah dan gak berlebihan kalau saya menyebutnya malaikat di tengah era moderenitas yang menimpa lingkungan saya.

Tidak sampai di situ saja pengalaman saya hari itu, sebelum shalat isya dimulai imam memberikan anjuran untuk merapatkan syaf semua jamaah. Dan ada seorang anak perempuan yang tidak membawa sejadah tapi gak masalah sih kan di mesjid ada sejadah karpet yang membentang.Jadi saya cuma berlalu saja dan mencari barisan yang kosong, dan Subhanallah seorang ibu dan satu-satunya jamaah wanita pada saat itu yang berdiri di samping anak perempuan itu membentangkan sejadahnya di depan anak itu secara horizontal sehingga sebuah sejadah yang dibawanya ia bagi dengan anak itu dan pada akhirnya anak itu menggunakan sejadah ibu itu. Wah benar-benar luar biasa, mungikin bagi jamaah lain itu hal biasa tapi buat saya itu sungguh luar biasa. Ya memang hanya hal kecil tapi saya mendapat pemaknaan hebat didalamnya. Ibu itu memperlihatkan bahwa berbagi itu dimulai dari hal kecil dan tentunya dasar dari semua itu adalah ikhlas. Anak itupun kaget melihat tindakan ibu itu namun dia hanya tersenyum tipis. Saya sadar betul setelah ibu itu membentangkan sejadahnya, bahwa membantu itu bukan hanya pada batasan materi. Ibu itu benar-benar hebat dan mampu membuka pemahaman saya tentang ikhlas dan tolong menolong  walaupun anak itu tidak berterima kasih tapi ibu itu tetap tersenyum. Ya ibu itu adalah malaikat ke dua yang saya  temui setelah anak yang adzan tadi. Malaikat ke ikhlasan di rumah Tuhan yang sungguh luar biasa.

Ternyata dan satu lagi, pas tadi waktu shalat saya berdekatan dengan anak kecil yang usianya sekitar  5 atau 6 tahunan gitu,mmmmmm sebenarnya anak itu lumayan mengganggu konsentrasi saya waktu shalat. Tahu  gak anak itu mengikuti gerak-gerik saya waktu shalat mulai dari batuk sampai bersin sekaligus, ya karena waktu itu saya memang agak flu. Dan hampir semua tindakan saya di tirunya sampai-sampai gaya saya doa pun diikuti dan yang paling parahnya lagi saat saya pindah shalat sunnah isya dianya juga ikut di samping saya, apalagi yang anak itu lakukan kalau gak ngikutin gerakan saya.Padahal saya tidak kenal sama sekali dengan anak itu, saya cuma tahu kalau anak itu tinggal didekat mesjid situ .Huhuhhuuuu,..konsentrasi saya buyar plus-plus gara-gara anak itu, tapi pas saya mau negur anak itu cuma senyum.Selesai shalat sunnah semua orang sudah bergegas pulang dan anak itupun begitu. Tapi saya masih agak sebel ma anak kecil itu.Pas keluar dari mesjid saya memperhatikan anak itu berjalan menuju rumahnya ke utara dari mesjid, saya kaget liat anak itu jalan sendirian padahal bisa di bilang daerah situ cukup gelap plus dekat kuburan lagi,.iihhhh serem. Tapi anak itu memang rajin ke mesjid gitu tapi cuma sendiri. Saya langsung berpikir mungkin anak itu ngikutin gerakkan saya karena dia mau belajar gerakan shalat dan gak tahu cara menyampaikannya ke saya tapi saya malah marah pas anak itu ngikutin saya , eehhmmmmm saya langsung merasa ngesel sempat merasa marah ke anak itu. Bisa dibilang juga anak itu hebat deh, dia mau belajar agama di usianya yang masih sangat muda padahal banyak juga anak-anak seusianya yang lebih memilih bermain daripada shalat. Dan jiwanya itu betul-betul seorang muslimah yang luar bisa di usianya yang masih muda dan seharusnya yang lebih tua belajar dari sikap anak ini. Jiwa malaikat yang sudah ada di dirinya itu sungguhlah Kuasa Tuhan. Dan tidak ada salahnya juga kalau saya menyebut anak ini sebagai seorang malaikat. Saya pun berharap semoga anak itu tetap memiliki jiwa malaikat itu sampai dewasa kelak,.Amin.

Hari ini benar-benar bermakna buat saya, ketiga jiwa-jiwa malaikat yang saya temui di rumah Tuhan itu sungguh luar biasa. Tuhan punya caranya sendiri terhadap umatNya, tiga malaikat yang lain generasi itu menunjukkan betapa kuasaNya Dia dan betapa besar perlindunganNya terhadap hambaNya yang taat menjalankan kebenaran yang diperintahkanNya. Mereka memberikan saya pelajaran tanpa penjelasan yang konkrit, tanpa pemahaman lisan maupun tanpa teori. Mereka menyampaikan dengan apa yang mereka perbuat dengan hati dan keimanan. Iman yang mereka miliki mampu menepis batas-batas logika pemahaman konseptual manusia. Mereka bukan sarjana dengan pendidikan tinggi, mereka bukan cendikiawan ataupun pengamat dan profesor, tapi hari ini mereka guru berharga buat saya dan tidak akan saya temui untuk dua kalinya di dunia ini. Saya merasa beruntung bertemu dengan mereka dan memdapatkan pelajaran yang berharga tentang keimanan dan tidak hanya berfokus pada keimanan melainkan pelajaran kehidupan secara univesal. Mreka guru saya tapi mereka tidak pernah memberikan saya pengajaran secara langsung ataupun mengajar saya tapi saya belajar dari setiap kehidupan mereka.

Ku temukan guru di rumah Tuhan malam itu. Kujuluki tiga malaikat itu guru kehidupan buat saya. Terima kasih Tuhan kau pertemukanku dengan guru kehidupan yang mungkin hanya akan saya dapatkkan sekali seumur hidup. Dan di rumahMu ku temukan guru itu dan ku harap mampu membuatku makin dekat padaMu,.amien,.
Dan kesimpulannya sebenarnya setiap harinya kita mendapatkan pelajaran dari Tuhan, tinggal bagaimana kita dapat memahami setiap bahasa yang Tuhan kirimkan untuk menaikkan tingkat kehidupan kita melalui orang lain Tuhan memberikan jalan yang berbeda untuk setiap umatNya. Dan begitulah caraNya menyayangi kita. Karena kita memang diwajibkan untuk terus belajar dan belajar yang tidak hanya terbatas di bangku sekolah saja





Tidak ada komentar: