siapa penemu komputer

Jumat, 17 Juni 2011

SEUNTAI PUISI UNTUK PRESIDEN

Alkisah seorang anak berumur 10 tahun bernama Wahyu yang kesehariannya bekerja sebagai penjual koran smenjak meniggalkan sekolah dasar karena alasan ekonomi.  Dia tinggal di sebuah rumah gardus di pinngiran kemegahan gedung-gedung ibukota negara Indonesia tepatnya Jakatra. Dalam kesehariannya dia menjual koran ditengah gerumunan mobil yang terjebak macet maupun lmpu merah. Ya,.. macet merupakan momen yang sangat tepat bagi kaki kecilnya berlari diantara mobil-mobil mewah yang berjajar untuk menawrkan kkoran jualannya dan juga mencari sepeser rupiah untuk membantu himpitan ekonomi keluarganya. Tentu itu ia lakukan untuk urusan perut dan kebutuhan ekonomi dikota besar seperti Jakarta.

Suatu siang saat ia tengah mdan benjajakan koran jualannya, ia melihat mobil presiden Indonesia melintas dengan pengawalan yang sangat ketat. Mobil berplat RI 1 membuatnya terkagum-kagum dengan luar biasa dan berbisik "wah bapak presiden,...pasti punya segalanya". Setelah terpaku menyaksikan lintasan mobil presiden dan pengawalnya, dia beranjak dari tempatnya berdiri seraya menuju ke ibu-ibu yang memanggilnga dari dalam mobil untuk membeli koran. Setelah merasa lelah dia mencoba bersantai di samping halte bus dan menghitung penghasilannya siang itu.  Gulungan uang seribu yang lecek mulai dia luruskan satu per satu dengan penuh semangat "mmmmm,...penghasilan hari ini cukuplah untuk beli obat dan susu buat ibu dan adikku",.Katanya bergumam sambil tersenyum tipis.Ketika berjalan menuju warung untuk membeli air mineral, dia melihat kerumunan orang yang berteriak-teriak membawa spanduk yang lumayan besar. Perasaan penasaran membawanya mendekat ke kerumunan orang tersebut. Dan ternyata kerumunan orang tersebut adalah mahasiswa yang sedang demo menuntut turunnya harga BBM. Wahyu berpikir "karena BBM  naik aja mahasiswa berdermo, terus soal keluargaku yang hampir hanya sekali makan dalam sehari, ibuku yang sakit, ayahku yang di PHK dan adikku yang harus memakai sandal ke sekolah karena sepatunya rusak kayaknya tidak pernah berdemo,lalu masalahku yang putus sekolah jugagak ngebuat aku untuk demo, kenapa masalah BBM mahasiswa demo yach?"  sambil mendekati kerumunan mahasiswa itu Wahyu terus berpikir. Karenadia terlanjur penasaran, dia terus mengikuti pendemo tersebut sampai ke bundaran HI. Dia mencoba memerhatikan secara saksama cara mahasiswa tersebut berdemo. "Saya gak mungkin ikutan mendemokan nasib saya ke presiden, walah yang dewasa aja kayak mahasiswa gak di dengar apalagi saya yang masih kecil, lagipula kalau saya pergi demo kapan saya jualan koran untuk keluarga saya,.mmm" gumamnya sambil menjauh dari kerumunan pendemo tersebut dan kembali berjualan.

Keesokan harinya, Wahyu menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Berhubung lagi sepi dia mencoba membuka halaman koran yang dijualnya. Selintas dia menemukan kolom yang berisikan puisi tentang keluh kesah terhadap harga BBM yang mahal disurat kabar yang dibacanya. Ya,.. dia menemukan apa yang dia cari. Setelah membaca koran dia mendapatkan inspirasi yang luar biasa dan melanjutkan pekerjaannya. Hari ini kooran yang dijual Wahyu cepat habis terjual jadi dia bisa langsung ppulang ke rumahnya untuk beristirahat. Sesampainya di rumah,  dia langsung mengambil secarik kertas dan pulpen lalu mulai menulis,...dan tahukah Anda apa yang Wahyu tulis????,.ya benar, Wahyu mencoba menulis sebuah puisi untuk presiden. Dengan tangan gemetar yang masih lelah dia mencoba mmenulis  dan ditemani dengan keringat yang bercucuran di wajahnya  ditambah lagi dalam keadaan lapar, namun semangat untuk menuliskan puisi untuk bapak presiden begitu besar. Semangatnya mampu membuatt tangannya bberlarian diatas kertas buram, sesekali dia menghapus keringatnya dan tersenyum tipis sembari kembali menulis. Entah spirit apa yang mengalir di dalam jiwanya sehingga siang itu dia begitu bersemangat.  Seperti ini salah satu isi puisi yang dibuatnya 

PUISI UNTUK BAPAKKU BAPAK PRESIDEN
Bapak,..
Kemarin kulihat mobilmu melaju
Dengan penjagaan yang super ketat dari pengawalmu
Apa bapak tahu saat bapak melintas
Hampir semua masyarakat memandang kearah bapak
Aku berdiri tegak menunggu bapak membuka kaca mobil
Untuk sekedar meberikann lambaian tangan

Namun bapak tak kunjung membuka kaca mobil hingga bapak berlalu
Tapi ku tahu bukannya bapak tak ingin
Tapi bapak pasti sedang sibuk

Bapak presiden,..
Kulihat pula mahasiswa mendemomu dengan luar biasa
Ada cacian maupun celaan yang terlontar untukmu
Tapi aku tidak peduli karena kaut tetap bapakkku bapak presidenku

Bapak,..
Sekarang banyak yang protes tentang kenaikan harga BBM
Seolah semua karenamu bapak
Terkhusus dari jiwaku
Ku tulis surat ini untukmu

Apakah bapak tahu??
Sekarang saya berumur 10 tahun dan saya sudah putus sekolah karena tak punya uang
Apakah bapak pun tahu??
Ibuku menderita kanker paru-paru tapi aku tak punya uang untuk mengobatinya
Apakah bapak iingin tahu??
Bahwa ayahku terkena PHK
Apakah bapak juga ingin tahu??
Kalau adikku harus memakai sandal kesekolah karena aku tak bisa membelikannya sepatu

Ku harap bapak bisa tahu
Ku harap bapak ingin tahu

Bapak,..
Aku berjualan koran untuk keluargaku
Dan aku tak ingin mengeluh bapak
Selagi aku masih bisa bernapas
Selagi aku msih bisa bejalan
Aku akan selalu menjajakan koran untuk sesuap nasi
Bagi keluargaku

Bapak,.
Ku harap pula
Suatu saat bapak akan membuka kaca mobil
Untuk sekedar melambaikan tangan dan meraih harapan juutaan warga Indonesia

Ku harap pula
Suatu saat bapak akan turun dari mobil
Dan beranjak berjalan di perkampunganku
Melihhat rumah kardus ditengah kemegahan kota Jakarta

Bapak,..
Bapak  harus tahu
Ribuan bahkan jutaan rakyat mendukungmu
Namun ada juga ribuan bahkan jutaan  rakyat membutuhkan kepedulianmu
Untuk bapak presidenku
Rasanya tak perlu aku berdemo di jalan
Cukup seutai puisi ku tuliskan
Ku harap kau kan kuat menjalankan tugasmu

Dan seuntai doa ku panjatkan
Untukmu bapak presidenku
Semoga kau tetap dalam lindungan yang Kuasa
Sehingga kau dapat menyejahtraan rakyat Indonesia
Amin,.ya Rabbal Alamin,.

Setelah menulis puisi tersebut, Wahyu merasa lega dan mempunyai semangat baru dan setiap hari dia menulis puisi untuk presiden. Namun, dia bingung kemanadia harus mengirim puisi-puisinya itu. Dia bingung karena dia tidak tahu alamat yang harus dikiriminya jadi setiap hari sambil berjualan koran, Wahyu menunggu mobil presiden melintas dan berharap mobil itu akan berhenti. Berminggu-minggu dan berbulan-bulan Wahyu menulis puisi untuk presiden . Wahyu menulis puis namun tak kunjung sampai ketangan presiden. Hingga suatu saat Wahyu menangkap burung merpati dan mengikat puisi-puisinya ke merpati itu dan tetap dia pun tak tahu alamat yang harus dibisikkannya kepada merpati itu, jadi dia memutuskan membiskkan satu kalimat ke merpati itu "ANTARKAN PUISI-PUISIKU INI KEPADA BAPAK PRESIDEN INDONESIA DIMNAPUN BELIAU BERADA".

 Sungguh ironi memang seorang rakyat kecil yang ingin berbicara dengan presidennya melalui puisi pun sangatlah sulit apalagi untuk bertemu dengan presiden dan faktanya lagi bahwa bisa dikatakan hampir sebagian besar rakyat Indonesia tidak tahu alamat presidennya sendiri padahal sudah hampir 2 periode menjabat. Tapi seangat Wahyu yang selalu berpikir positif, tidak mudah putus asa, dan optimis dalam hidup setidaknya patut kita contoh. Wahyu tidak pernah berpikir  untuk puisinya  dibaca atau bahkan ditanggapi oleh presiden tapi setidaknya dia mencoba berusaha mengirimkan puisi tersebut. Dan mungkin di luar sana ada banyak yang mempunyai masalah kehidupan ekonomi seperti Wahyu, dan sudah seharusnya semua pihak membuka mataakan itu semua karena bangsa ini bukan tanggungjawab perorangan. Sudah saatnya kita bergerak dan mencoba melihat sekeliling kita karena mereka tidaklah sendiri sebab kita punya dua tangan untuk diulurkan ke mereka supaya mereka mampu bngkit bersama kita.





1 komentar:

Wonoderyo mengatakan...

pas banget ni momennya...
mampir kesini bos, tinggalkan komentar ya hehe
salam kenal aja
Sajak Untuk Presiden RI 2014

Siapa Presiden Republik Indonesia 2014